Friday, October 16, 2009

Gunung Fuji

Akhir minggu yang lalu (sudah rada basi kayaknya, mau nulis gak sempat sempat sih), suami ngajak ke Mount. Fuji. Bukan untuk mendaki gunung, tapi main ke taman safari. Gara garanya setiap kita ke kebun binatang biasa, selalu aja macan dan singanya pada bobok siang. Gak asyik ah, karena itu suami tertarik dengan Night Safari, program mengunjungi taman safari pada malam hari, ngelihat macan singa dan beruang yang pada giat beraktifitas.

Kita nyantai saja, berangkat dari rumah selepas makan siang (wong Night Safarinya baru buka mulai jam 5 sore). Perjalanan lewat jalan toll berjalan mulus, Rui juga bobok terus di mobil. Setelah sampai di kawasan gunung Fuji barulah si boss ini melek.

Oh ya, kita sempat ngelihat kecelakaan mobil pas di depan kita. Dari jauh kita lihat ada mobil penumpang biasa diserempet truk gandeng, setelah terdengar suara benturan keras, mobil penumpangnya melayang ke atas, berputar sekali di udara, dan berdebum kembali ke jalanan, ringsek dan kacanya jendelanya langsung berantakan semua. Aku dan suami sampek gak bisa berkata kata, melongo…. Tapi habis gitu jadi merinding sendiri, seandainya mobil kita jalan lebih cepat, seandainya mobil kita berada semeter aja ke depan, pastinya mobil kita bakal ikut terhantam mobil penumpang tadi. Huah!! Ngeri dan takjub, habis baru kali ini kita lihat ada mobil salto di depan mata kita sendiri. Ajaibnya lagi gak ada korban jiwa kayaknya, soalnya kita lihat penumpang mobil yang ringsek itu langsung keluar dari dalam mobil dengan muka pucat, sambil mengibas ngibaskan lengannya yang penuh remukan kaca. Sopir truk gandengnya juga gak kenapa kenapa. Jalanan langsung macet waktu itu, dan kita ngibrit potong jalan lewat jalur lain.

Sekitar jam setengah tiga sore kita nyampai, iseng kita langsung ke taman safari, siapa tahu bisa masuk, eh, ternyata kalau mau masuk jam segitu, kena charge 2x, program safari biasa (siang) dan program Night Safari. Males kalo gitu. Akhirnya sambil nunggu waktu sampai masuk Night Safari, kita nemu taman buat main anak anak yang namanya Kodomo no Kuni (negeri anak anak). Rasanya banyak banget deh tempat hiburan yang pakai nama itu, di deket rumah ada juga, di daerah Ibaraki juga ada, di Hakodate juga ada….

Jadi kita puas puasin Rui lari lari menghabiskan energinya, biar nantinya dia bisa anteng di mobil kalo pas lihat Night Safari. Hanya saja aku kedinginan setengah mati, udara di pegunungan beda banget dengan daerah rumah kita. Udah bener bener kayak musim dingin. Padahal aku sudah pakai baju rangkap dan syal segala, tapi masih belum cukup, harusnya pakai jaket musim dingin tuh. Rui juga akhirnya ngeluh kedinginan, untunglah aku bawa syall cadangan. Pertama Rui mau juga lehernya diubel ubel syall, tapi lama lama dia bosen, dia request ke aku, syallnya ditaruh di kepala aja, biar kayak bajak laut. Yo wes, tapi setelah kepala Rui tak bungkus syall, bukan jadi kayak bajak laut, malah jadi kayak kerudung, dan Rui jadi kelihatan ayu sekali, hehe….

Di taman itu, Rui juga sempat diajak bapaknya naik perahu canoe. Dua duanya baru pertama kali itu naik perahu canoe nyetir sendiri pakai dayung, jadinya ya canggung banget. Belum sampai seputaran, perahunya sudah didayung balik. Rui malah sudah teriak, “Rui takut… mau tenggelam…” Hihi, lha iya lah wong bapaknya aja juga rada grogi, jadi nyetrum deh ke anaknya.

Capek main di taman, kita balik ke taman safari, trus ikutan ngantri dengan mobil mobil lain di pintu gerbang. Wuah, ternyata banyak juga yang tertarik lihat Night Safari. Antriannya lumayan panjang.

Cerita Night Safari? Ya begitulah, ternyata emang bener, binatang pemburu itu kalau malam malah kelihatan lebih giat. Kita bisa lihat macan singa dan beruang lagi mondar mandir. Sedang di kawasan hewan pemamah biak, kita lihat kijang dan bison pada ngantuk, diem dan anteng. Malah ada zebra yang aku pikir patung, lha wong berdiri diam aja gitu, ternyata lagi tidur, hehe.

Night Safarinya kita gak punya photo yang bagus, habis sudah gelap gitu, walaupun macannya pada eksyen kalau diphoto pun gak bisa dapat hasil yang bagus. Mana kita dilarang keras membuka kaca jendela mobil selama berada di kawasan binatang binatang. Jadi ya photo yang bisa aku pajang di bawah ini, hanya photo waktu kita main di Kodomo no Kuni.

Thursday, October 15, 2009

Rei, 3 bulan.

Rei, sudah 3 bulan lebih usianya. Suka ketawa dan kadang bisa terkekeh kekeh dengan suara keras. Tapi masih belum sempurna menyangga leher dan masih belum bisa tengkurap sendiri (kalo ditengkurapin kakaknya sih bolak balik, hihi). Gara gara nyangga lehernya belum sempurna, kapan hari waktu mau check-up bayi 3 bulan, ditolak sama kliniknya – disuruh nunggu sampai bisa nyangga leher sendiri. Ya sudahlah ditunggu aja. Jadinya boss kecil ini ya belum punya “kegiatan” khusus, masih baring baring aja kalau di rumah, kayak photo di bawah ini. Selamat menikmati.

Sunday, October 04, 2009

Undoukai

Hari Sabtu ini Rui gak libur, karena di sekolahnya ada kegiatan Undoukai – kegiatan gerak badan atau olahraga bersama. Wali murid boleh ikut serta, kalau mau boleh ngajak kakek nenek juga. Persiapan acara ini sudah dilakukan beberapa waktu sebelumnya, anak anak dikerahkan mewarnai topeng, ibu ibu juga pada kecipratan tugas bikin rumbai rumbai “pom-pom” buat anak anak menari ala cheerleader.

Rencananya Undokai dilangsungkan penuh pada hari Sabtu, tapi ternyata turun hujan pas acaranya lagi berlangsung separo. Akhirnya acara hari Sabtu terputus, dan separo acara berikutnya dilangsungkan hari Minggu.

Isi acaranya macam macam, ada tarian massal, lomba lari, lomba halang rintang, lomba memasukkan bola ke keranjang, dll. Lucu deh ngelihat tingkah anak anak TK, ada yang semangat banget, tapi ada pula yang ngambek, nangis gak mau ikutan – sampai dirayu rayu sama gurunya. Syukurlah Rui oke oke aja. Walaupun keringatan dan kepanasan dia bisa ikut berbaur dengan teman temannya. Cuma sedikit ada insiden, waktu semua udah siap siap mau menari, tahu tahu Rui teriak mau pipis. Wuah, langsung deh sama bapaknya Rui dilarikan ke toilet. Untung aja gak sampai telat bergabung kembali dengan grup tarinya. Ada ada aja….

Selesai acara anak anak main gelembung sabun bersama, dan dapat tanda mata medali emas (menang atau kalah semua dapat medali), juga dapat oleh oleh cendera mata berisi pensil warna, buku gambar, dll.

Thursday, September 24, 2009

Namanya Juga Sodara...

Kapan hari nemu photo lawasnya Rui dan aku jadi tersenyum senyum sendiri karena wajah Rei sekarang miriiiip banget dengan wajahnya Rui pas bayi dulu. Namanya juga sodara yach.

Tuesday, September 15, 2009

Gak sempat nge-blog

Repot, ngurusi dua cindil. Mana emaknya kena flu lagi....

Tuesday, August 18, 2009

Ulang Tahun

Bulan Agustus ini ada 3 orang yang ultah di keluarga Sasai yaitu Papa mertua, mama mertua dan Jiro san (adik iparku). Seperti tahun kemarin, acara ulang tahunan kita isi dengan makan bareng di Rain Forest Café, Ikspiari. Walaupun tempat dan menunya sama, yang bikin beda tahun ini ada tambahan anggota keluarga yaitu si kecil Rei.

Selama acara makan, anak anak tergolong sangat “terkontrol”. Rui dan Ryota (anaknya Jiro san) lumayan anteng, hanya sekali sekali aja dua anak balita itu ngeluyur berdua (sambil bergandengan tangan, aiih lucunya) muterin café yang penuh dengan pajangan boneka binatang macam gajah dan gorilla yang bisa bergerak gerak. Sedang baby Rei tidur melulu, mungkin karena suasana café yang redup bikin ngantuk. Oh ya, saking remang remangnya, sampai kita kesusahan baca menu hidangan. Akhirnya kita asal tunjuk photonya aja, daripada mata kita juling, hihi.

Selesai acara makan, rombongan papa mertua pulang duluan, sedang aku, suami, Rui dan Rei masih betah di Ikspiari, gara gara Rui pengen lihat pertunjukan acrobat dan sulap. Anak itu kalau nemu seniman jalanan, pasti langsung duduk manis ngelihat deh. Satu jam kemudian setelah Rui puas ngelihat acara sulap dan puas dikasih balon sama seniman nya, barulah kita pulang ke rumah.

Monday, August 03, 2009

Repot

Gak terasa baby Rei sudah sebulan usianya. Sudah lebih gembul, melembung di sana sini, pahanya jadi gedhe, pipinya jadi cempluk – sampai hidungnya yang mungil jadi tambah tenggelam aja, hihi.

Suara nangisnya Rei tambah hari tambah kenceng. Maklum aku sering gak bisa cepat respon. Apalagi sekarang ini aku sendirian di rumah (bapak-e anak anak? Biasaaa… kerja luar kota). Repot memang ngurus dua anak. “Jam tempur” bagiku adalah pagi dan sore. Pagi repot mempersiapkan Rui buat berangkat ke tempat penitipan anak, ngasih makan Rui, nyisir rambut Rui, siapin bekal, dll diiringi suara tangisan Rei yang sudah melek dari pagi.

Sore “bertempur” lagi kalau pas jam mandi. Biasanya aku mandiin Rui dulu (kalau pas Rei tidur sih slamet, tapi kalau Rei bangun dan nangis, ya Rui nya jadi mandi bebek, disabuni sekenanya aja). Selesai Rui mandi, biasanya Rui gak mau keluar dari kamar mandi, jadi aku siapin air panas biar Rui bisa nyemplung dan mainan air, selama aku mandiin Rei. Selesai Rei mandi, aku buntel pakai baju handuk, trus aku taruh aja di alas empuk di luar kamar mandi, sedang aku mandi bebek. Selesai aku mandi, barulah aku ngurus Rei lagi, masang pampers, kasih baby lotion, dll, sementara Rui nya lari larian telanjang – heran deh, kenapa sih selalu aja Rui gak mau langsung pakai baju, padahal baju gantinya sudah aku siapin.

Sementara ini emang lagi repot repotnya, jadi kalau bapak-e anak anak pulang, atau mertua mampir ke rumah, wuaah aku rasanya girang banget. Tapi sekarang sudah lumayan sih, Rui bisa aku titipin di tempat penitipan anak, aku juga bisa ngajak Rei keluar saben hari. Waktu jadi cepat sekali berlalu. Aku gak bisa bayangin deh, gimana ya ibu ibu Jepang yang punya anak lebih dari dua, pasti hari harinya lebih padat lagi.

Thursday, July 23, 2009

Penutupan Semester

Semester pertama di TK Rui berakhir tanggal 17 Juli yang lalu. Setelah itu masuk liburan musim panas dan sekolah baru dimulai lagi tanggal 1 September. Bulan Agustus nanti aku sudah booking tempat di penitipan anak dekat rumah. Selama liburan musim panas, aku taruh Rui di sana dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang, biar dia gak bosen di rumah. Sedang aku paling gak bisa rada longgar ngurusi rumah dan bayi Rei.

Sebagai penutup semester pertama di TK, wali murid dipanggil untuk melihat anak anaknya menyanyi bersama. Sejak pulang dari rumah sakit, tugas antar jemput Rui, aku serahkan ke mama mertua. Tapi khusus untuk penutupan semester itu, sengaja aku yang datang ke sekolah, sedang bayi Rei tinggal di rumah dijagain mama mertua.

Rui kelihatan girang banget waktu tahu aku datang ke sekolah buat lihat dia menyanyi bersama. Saking girangnya sampai dia jadi banyak bertingkah. Hehe. Anak itu emang gak bisa menutupi perasaan, kalau lagi seneng kelihatan banget. Waktu aku masuk kelasnya, Rui yang udah berjajar rapi di depan langsung deh teriak teriak dan dadah dadah ke aku. Sampai Rui ditegur gurunya supaya rada anteng dikit.

Waktu acara dimulai, Rui ternyata bisa juga nyanyi bareng sama temen temennya. Padahal di rumah kayaknya dia gak pernah nyanyiin lagu lagu yang diajarkan sekolahnya. Selesai acara nyanyi, semua pulang dengan bawaan buanyak. Semua barang yang biasanya disimpan di sekolah harus dibawa pulang, dari baju ganti, topi kain, sandal plastik yang biasa dipakai kalo pas ada program di kolam renang, sepatu yang biasa dipakai di dalam ruangan, dan yang paling buanyak adalah hasil prakarya – guntingan kertas origami, robot dari kotak susu, kamera dari gelas plastik, dll. Aku yang rencananya mau mampir ke supermarket sepulang dari sekolahnya Rui, jadi batal deh.

Dalam perjalanan pulang, Rui terus nggandeng tanganku. Mungkin dia kangen juga ya, sudah lama gak jalan berdua dengan mamanya. Hehe.

Sunday, July 19, 2009

Baby Rei

Tanggal 29 Juni 2009, adiknya Rui lahir. Laki laki, kita beri nama Rei Sasai. Sama seperti nama Rui, kita pilih nama Rei dengan pertimbangan gampang diingat dan dilafalkan. Nama Rei gak punya makna khusus sih, tapi sengaja kita pilih yang bunyinya mirip dengan nama Rui. Sama seperti Rui juga, kita juga gak kasih middle-name. Jadi ya sama kayak nama nama Jepang pada umumnya, nama keluarga dan nama panggilan aja.

Kelahiran Rei juga dengan operasi Caesar kayak Rui. Hanya kali ini aku merasa prosesnya beraat sekali. Apa mungkin karena aku sudah tambah tua ya. Waktu operasinya Rei, aku sesak nafas berat, sampai dadaku serasa kayak diduduki gajah aja. Dan gak tahu kenapa rasanya tulang bahuku pun terasa pegel banget. Waktu sudah keluar ruang operasi pun, wajahku dibilang biru sama papa mertua.

Syukurlah baby Rei sehat. Lahir dengan panjang 50 cm dan berat 3.012 gram – lebih kecil daripada Rui (dulu Rui beratnya 3.580 gram). Tapi emang Rei lahirnya lebih cepet, usia 37 minggu kehamilan, kalau Rui dulu khan lahir pas usia kehamilan 39 minggu. Sama kayak dulu kali ini pun suami ikut nungguin di kamar operasi. Yang berbeda kali ini dia berani nggunting tali pusar-nya Rei. Padahal dulu waktu operasinya Rui, suami ketakutan waktu ditawari buat nggunting tali puser, hehe.

Aku nginep di rumah sakit (Oshio Women Clinic) gak sampai seminggu. Selama aku di rumah sakit, suami yang ngurusi Rui. Beruntung sekali dia dapat libur seminggu. Suami sempat ngeluh, ternyata walaupun Rui sekolah tetap aja capek ya ngurus anak. Yeiii… emangnya kalau anak sudah sekolah, kita bisa santai, ya enggak lah yauw. Pasti ada aja kesibukannya. Padahal selama aku opname, bekal makan siang (bento nya) Rui pesen dan beli di sekolah, cobak kalau bento nya harus bikin sendiri, tambah repot tuh, kudu bangun lebih pagi. Walaupun gitu ada juga segi positifnya, berat badan suami sekarang turun sekilo, gara gara lebih aktif ngurusi Rui. Hehe.

Baby Rei sekarang masih banyak tidur… kalo siang, malamnya ya berkali kali bangun. Aku jadi kurang tidur malam, tapi walaupun gitu kalau siang ya tetap aja gak bisa santai tidur tiduran, karena kerjaan rumah ya masih harus jalan. Harus masak, nyuci baju, bersih bersih, ngurus Rui, dll. Sibuk sih, tapi dijalani aja. Karena itu aku bersyukur banget kalau mama mertua datang, walaupun paling dia hanya bantuin jemurin baju atau nemenin Rui baca buku cerita saja, rasanya aku sudah terbantu banget. Aku bisa selonjor dan tidur 15 menit aja rasanya udah enak banget. Apalagi kalau Sabtu Minggu, pas suami libur, aku lebih bersyukur lagi, karena ada yang nemanin Rui main seharian.

Oh ya, waktu aku hamil kemarin, aku selalu berharap bayiku bisa mirip dengan Rui. Walaupun Rui itu kadang suka over-aktif, tapi gimana pun aku lebih suka dengan anak yang banyak gerak. Dan ketika Rei lahir, banyak yang bilang baby Rei persis mukanya Rui waktu bayi dulu. Dan ternyata gak hanya wajahnya aja yang mirip, tapi unyeng-unyeng Rei juga dua!! Sama kayak unyeng unyeng Rui. Sebenarnya dulu aku gak percaya dengan mitos mitos begitu, tapi setelah punya anak Rui, ternyata bener anak dengan unyeng unyeng dua itu “ndridis” gak bisa diem. Dan sekarang Rei pun ber unyeng unyeng dua. Mbayangin setahun lagi kalo Rei tambah gedhe, pasti bakal ndridis kayak kakaknya, emaknya ini hanya bisa nyengir. Hihi.

Photo di bawah, yang sebelah kiri (aku pakai masker oksigen dengan tali hijau) adalah photonya Rui, 30 menit setelah kelahiran. Sedang photo yang sebelah kanan (aku pakai masker oksigen dengan tali putih) adalah photonya Rei, 30 menit setelah kelahiran. Rui dan Rei mirip khan… emang saudara siih.

Tuesday, July 14, 2009

Rui & Rei

Masih belum sempat update. Cuma bisa majang photonya Rui dan baby Rei.

Syukurlah Rui gak pernah cemburu sama adiknya yang baru lahir (ato belum kali ya…). Rui malah seneng banget tidur sebelahan sama Rei, ikut bantuin ganti pampers atau ikut bantuin mandiin Rei – padahal sebenarnya kalo Rui ngasih bantuan, mamanya ini masih sering deg degan, karena gak jarang pampersnya Rei dipasang terlalu kenceng atau busa sabun Rei masuk ke mulut saking semangatnya Rui nyabunin. Hehe.

Friday, June 26, 2009

Sewing Club

Di TK nya Rui ada macam macam club untuk wali murid. Dari pertama rasanya aku juga pengen ikut club beginian, lumayan khan buat tambah pengalaman dan kenalan. Hanya saja club yang cocok buatku terbatas banget. Ada club berkebun, kegiatannya menanam kembang dan sayuran di halaman sekolah, merawat dan ngasih air secara berkala. Aku ogah masuk club berkebun ini, selain gak bakat merawat tanaman, juga pasti jijik banget kalo ketemu uler, serangga dan kawan kawannya, dan alasan utamanya lagi, aku males kepanasan ngurusi tanaman – apalagi nanti kalo adiknya Rui lahir, pasti lebih repot lagi khan berkebun sambil bawa bayi.

Selain itu ada club bola volley, club mendongeng untuk anak anak, club belajar bhs isyarat untuk tuna rungu, dll – semuanya rasanya gak cocok kalo diikuti dengan bawa bayi.

Akhirnya pilihan akhirku jatuh pada sewing club – club menjahit. Pilihan yang sangat nekad, karena aku khan gak punya mesin jahit, hehe. Tapi setelah tanya kiri kanan, ternyata emang gak harus punya mesin jahit kok kalo mau jadi anggota sewing club. Kegiatannya membantu sekolah dalam hal jahit menjahit, misalnya bikin baju utk boneka yang biasa dibuat mainan anak di sekolah, bikin bantal tempat duduk anak anak, bikin korden mini untuk penutup rak topi sekolah, dll. Aku pilih club ini karena aku pikir walaupun nanti ada bayi, aku masih bisa nyambi nyelesaikan tugas2 sederhana dari club menjahit.

Tugas yang pertama kuterima: bikin futon-set (lembaran kasur, selimut dan bantal) untuk boneka Popo chan yang ada di sekolah. Bahannya (kain perca, renda, dll) kita kumpulkan dari sumbangan wali murid juga. Dan gak sangka dari sumbangan wali murid bisa terkumpul 3 kardus besar aneka kain perca, pita, renda, benang, dll.

Aku sudah gak punya banyak waktu. Prinsipku sebelum aku masuk rumah sakit nanti, tugasku di sewing club harus selesai. Jadinya ngebut deh siang malam, sekali lagi karena aku gak punya mesin jahit, semuanya harus aku kerjakan manual. Syukurlah PR ku bisa kelar juga. Hasilnya? Lumayan juga sih bagiku. Saking senengnya sampai photonya aku pamerin di sini. Hehe. Buat percobaan, aku coba nidurin bonekanya Rui pakai selimut hasil karyaku, lucu juga jadinya.

Thursday, June 25, 2009

Doa di rumah

Persekutuan doa oikumene bulan ini sebenarnya rencana mau diadakan di Oriental Hotel, maunya sih pesen ruangan khusus trus abis kebaktian mau langsung makan siang di restoran Grand Ching yang ada di dalam hotel. Tapi nyatanya banyak yang telat ngasih info bakal datang ato enggak, akhirnya booking hotelnya pun telat, dan ruangan yang kita incer pun sudah keduluan di booking orang. Batal deh, acara lunch di hotel.

Buat penggantinya, hari Kamis siang tadi kebaktian diadakan di rumahku (lagi), tapi karena aku udah gak sanggup buat masak masak, Eva mengajukan diri buat masak hidangan kebaktian. Aku tinggal siapin tempat dan masak nasi aja. Hanya saja pas saat saat terakhir, kok rasanya aku pengen bikin hidangan juga, akhirnya aku masih sempat bikin kolak biji mutiara dan kue tart jeruk lapis keju.

Kebaktian tadi siang yang mimpin pdt. Sebastian. Karena masih deket Father Day, yang dibahas ya seputaran hari Bapak deh. Aku kayak biasa harus kabur di tengah tengah acara buat jemput Rui ke sekolah. Eh, Rui lucu deh, pas hari Rabu aku bikin kue tart, dia langsung bisa nebak bahwa besoknya Ai chan bakalan datang ke rumah. Trus Kamis pagi, Rui pura pura batuk, trus ngomong gini “Rui hari ini flu, gak bisa masuk sekolah”. Hihi, bisa aja dia alasan gitu, maksud sebenarnya khan pengen di rumah aja, nungguin main sama Ai chan. Tapi bisa aku bujuk buat berangkat sekolah juga, dengan iming iming “kalau gak sekolah, gak bisa main air di kolam sekolah lho”.

Acara kebaktian selesai sekitar jam 4 sore, tapi walaupun pak Sebastian udah pulang, ibu ibunya masih pada asyik ngobrol sampai jam 5 lebih. Tahu gak, ibu ibu pada banyak yang ngelus ngelus perutku. Rencananya tgl 29 nanti (hari Senin) aku khan operasi Caesar (buat Sheila yang kapan hari komen di blog ku, ini buat jawabanku juga ya). Lha wong pas Rui dulu juga operasi, yang kedua ini juga pasrah deh harus operasi lagi. Ibu ibu tadi bilang, waah kurang beberapa hari lagi gak bakal lagi ketemu perut kuda nil ini, hihi….

Yah semoga aja operasi hari Senin nanti berjalan lancar. Terima kasih banyak buat doa dari semuanya. Sebenarnya tambah deket harinya tambah deg deg-an, inget inget operasinya Rui dulu aja aku sampai ndleming (apa ya bhs Indonesianya, pokoknya ngomel tanpa sadar) ngucapin segala doa yang aku inget, dari doa Bapa Kami, Salam Maria, dll… saking ketakutan banget perutku di-udal udal. Sama kayak dulu, kali ini pun aku minta bapak-e Rui nemenin aku di dalam ruang operasi. Soalnya aku gak bakalan kuat kalo sendirian. Urusan antar jemput Rui ke sekolah aku serahkan ke mama mertua yang juga ambil libur hari Senin nanti. Sebenarnya sih kalo bisa, aku pengen ditemenin Rui juga, tapi rasanya kok terlalu beresiko kalo mau bawa anak balita ikut ke ruang operasi, jangan jangan dia malah rewel. Ya sudahlah biar dia sekolah aja, sepulang sekolah aja dia jenguk aku di rumah sakit.

Makin dekat harinya rasanya campur aduk, antara deg deg-an, ketakutan, dan penasaran juga pengen tahu kayak apa sih adiknya Rui. Selama ini kalo di-USG, selalu aja mukanya gak keliatan, ditutupi pakai tangan, bikin penasaran aja deh. Sekarang tinggal menghitung hari aja deh sampai adiknya Rui lahir nanti.

Tuesday, June 23, 2009

Open Class

Pagi tadi ada open-class di TK nya Rui. Wali murid diundang ke sekolah untuk melihat kegiatan di kelas anaknya. Sejak masuk TK bulan April yang lalu, kegiatan ini sudah 3x dilakukan. Open class yang pertama, aku yang datang, main eventnya lihat Rui dan temen temennya makan siang dengan bekal bento dari mamanya masing masing. Lumayan juga, kita jadi tahu apakah bento yang kita bikin sudah cocok dengan anak kita, apakah porsinya kebanyakan atau terlalu sedikit.

Open class yang kedua, bapak-e Rui yang datang. Kebetulan open class yang kedua itu diadakan pada hari Sabtu, jadi yang datang kebanyakan ya para bapak. Even utamanya ngelihat anak anak ngapain aja sih selama jam sekolah, habis itu wali murid diajak main berpasangan dengan anak anak. Bapak-e Rui bilang, kegiatannya seru juga dan lumayan makan keringat, karena wali murid juga diajak senam dan lari larian segala di halaman sekolah, (slameee…eet bukan aku yang datang, kalau aku yang datang pasti lucu banget ada bumil dengan perut kuda nil ikutan senam, hihi).

Trus open class yang ketiga, ya yang diadakan hari ini. Kegiatan utamanya ngelihat anak anak main air di kolam renang kecil sekolah. Kita bisa lihat mulai dari anak anak nyerahin kartu kesehatan (setiap pagi di rumah kita harus ukur suhu badan anak, dan ditulis di kartu kesehatan. Dari kartu kesehatan itu guru bisa menentukan apakah hari itu si anak layak main air di kolam renang. Kalau suhu badannya tinggi dan anak kelihatan gak enak badan, gak bakalan diijinkan main air, dan harus menghabiskan waktu dengan bermain di dalam kelas saja).

Setelah itu kita bisa lihat anak anak ganti bajunya dengan celana renang (terharu juga, ternyata Rui bisa juga cekatan ganti baju sendiri, padahal kalau di rumah kalau aku gak teriak teriak pasti sampai tahun depan pun gak ganti ganti). Habis itu setelah pemanasan barulah anak anak dilepas di halaman buat main air. Mangkanya Rui cepet banget itemnya, lha hampir setiap hari main di kolam begitu. Rui paling seneng mainan pistol air dan nyebur di kolam dangkal dengan hebohnya.

Pas ngelihat anak anak main air itu, aku sempat kliyengan juga. Lha wong hari ini fanas banget, mana kita ngelihatnya khan gak sambil duduk, hanya berdiri aja di seputaran halaman. Akhirnya aku minta ijin gurunya Rui buat duduk di dalam kelas, lha wong rasanya juga sudah mau semaput, wong gak hamil aja kalau kepanasan terlalu lama aja bisa mau pingsan, apalagi ini lagi hamil gini.

Selesai main air, anak anak digiring lagi buat diguyur air shower, ganti baju, trus masuk kelas. Rui sudah lebih anteng sekali dibanding dulu. Waktu gurunya bacain buku cerita dia juga bisa duduk manis dengerin, sama sekali gak jalan jalan ke tempatku, hanya sekali sekali aja dia ngelirik lirik ke arahku sambil senyam senyum. Anakku tambah gedhe rupanya.

Sekitar jam 11 siang, acara open class berakhir. Para mama bubar, sedang anak anak masih harus sekolah sampai jam 14.00 siang. Sayang sekali kalau pas acara open class gitu, dilarang ngambil photo, takutnya nanti merusak konsentrasi anak. Jadinya aku gak punya dokumentasi buat melengkapi postingan ini. Tapi teteup aja rasanya gak lengkap kalo gak ada photo, so buat gantinya aku pajang photonya Rui pas di jalanan menuju sekolah, hehe.

Saturday, June 06, 2009

Father`s Day

Sebenarnya hari Bapak di Jepang dirayakan pada hari Minggu ketiga bulan Juni. Tapi kapan hari kita sudah father-day-an sendiri di rumah. Kebetulan di kulkas masih ada simpenan black cherry, dan bumil ini masih punya sisa sisa tenaga buat bikin black forrest, sekalian buat menyambut kepulangan bapak-e Rui yang kerja luar kota selama 3 minggu.

Aku pikir kuenya bisa dibagi separo buat mertua juga, tapi gak tahunya gak sampai 2 hari udah ludes juga. Rui juga doyan banget, gak mau kalah kayak bapak-e, jadi pemakan segala. Yang gak doyan makan malah aku, nih perut udah tambah sesak aja. Sekarang udah masuk usia 34 minggu. Lingkar perut udah jadi 90 cm (wauw! Kurang dikit lagi bakal jadi se-meter nih, hihi). Tambah sering sesak nafas, perut tambah sering kenceng kenceng, susah tidur, pinggang pegal, dll dll… tapi dinikmati aja lah kurang sebentar ini. Minta sumbang doa nya ya, kemungkinan besar akhir bulan ini adiknya Rui bakal lahir.

Nb. Di photo atas, Rui udah keliatan item ya, saben hari maen melulu di TK. Apalagi kalau ada di sebelah bapaknya, Rui tambah ireng aja, lha wong bapak-e Rui itu walopun dijemur seabad pun gak bakalan bisa gosong, hihi.

Thursday, May 28, 2009

Doa Oikumene

Walaupun perut udah segendut kuda nil, walaupun hari ini cuaca buruk hujan terus menerus, tapi ternyata sukses juga bikin acara persekutuan doa oikumene di rumah. Itung itung juga buat mendoakan biar kelahiran adiknya Rui sebulan lagi berjalan lancar dan sejahtera.

Beberapa hari aku nyicil bikin hidangan, dan hasilnya adalah : rendang ayam, bakso, tumis tuna paprika, cumi goreng dan nasi kuning. Untuk dessertnya aku bikin es buah dan kue black forest. Seperti biasa hidangan acara bertambah komplit dengan hasil sumbangan dari ibu ibu lain, seperti teri pedas, krupuk bawang, tumis udang, martabak, pie daging dan sayur tahu.

Yang bawain kotbah bp. Pdt. Surya (kali ini beliau datang disertai istrinya, Yoko san). Di tengah tengah acara aku sempat kabur sebentar buat jemput Rui di TK. Wah, dia seneng sekali waktu aku bilang, Ai chan – putrinya Mbak Retno sudah nunggu di rumah. Waktu jalan kaki pulang ke rumah, setiap papasan sama temennya, Rui langsung ngomong “ada Ai chan di rumah”, hehe… Jadi ya begitu deh, ketika ketemu Ai chan, langsung deh dua anak itu asyik main sendiri. Sempat juga, main sapu di beranda juga, katanya lagi bersih bersih, lucu juga.

Di bawah ini sekilas dokumentasi acara hari ini.

Wednesday, May 13, 2009

Sea World

Dalam rangka menghabiskan tiket terusan kita kapan hari, akhir pekan yang lalu kita ngeluyur ke Sea World di Kasai Rinkai Park. Setelah beberapa hari hujan melulu, hari itu fanas nya gak main main. Aquarium nya kebanyakan ada di dalam ruangan sih, tapi begitu keluar ya panas lagi. Apalagi di halaman luar pas ada seniman jalanan lagi memamerkan kebolehannya main sulap dan lempar lempar bola – Rui langsung ikutan jongkok ngelihat, padahal matahari lagi terik banget tuh. Belum lagi masuk musim panas, tapi rasanya Rui bakal cepet jadi item deh, wong kulit dia itu kulit Indonesia, cepet gosong kalo kebakar matahari.

Pengunjung sea world Sabtu kemarin lumayan banyak, tapi gak sampai padat sekali. Pas ada rombongan TK dari luar kota lagi tamasya di sea world, jadinya Rui sering berbaur dengan rombongan anak anak itu. Hehe. Waktu mereka lagi diberi kesempatan buat megang binatang laut, kayaknya Rui juga pengen megang, tapi cuma berani nyolek dikit, emang Rui rada jijik sih kalo sama binatang laut. Kayaknya Rui lebih seneng kalo ke kebon binatang ya.

Pas jam makan siang, kita duduk duduk di rumput halaman luar, sambil makan bekal. Bekalnya gak bikin sendiri sih, tapi beli roti jadi, soalnya bumil ini lagi gak doyan makan nasi, maunya rotiiii melulu, gimana gak tambah bunder ya.

Pulang dari sea world, sebenarnya bapak-e Rui mau ngajak ke Odaiba, lihat museum kapal. Tapi karena Rui rewel berat dan perutku tahu tahu kenceng banget rasanya, wes mending pulang aja deh. Mungkin karena hawanya terlalu fanas ya, jadi gak nyaman buat jalan. Lain kali pasti ada kesempatan lagi.

Wednesday, May 06, 2009

Liburan Golden Week

Di Jepang barusan melewati masa liburan Golden Week (tanggal merah berturutan). Bapak-e Rui juga libur. Ngga ada rencana khusus sih, wong pasti kemana mana juga bakal rame. Tapi kalo di rumah melulu juga rasanya males, dan pasti kalo di rumah terus kerjaan Rui bakal maenan game aja. Jadinya Golden Week tahun ini banyak kita habiskan dengan jalan keluar.

Bapak-e Rui bela belain beli tiket Guruto-Pass, 1 tiket untuk orang dewasa harganya 2.000 yen, tiket itu bisa dipakai untuk masuk ke aneka musium, kebon binatang, sea world, dll – dengan jangka waktu pemakaian 2 bulan. Lumayan hemat, walaupun akibatnya kita harus bawa gepokan tiket itu kemana mana. Oh ya, untuk anak seusia Rui gak perlu dibeliin tiket, karena umumnya dia masih gratis kalo masuk musium ato kebon binatang.

Jadilah kita mulai keluyuran sejak Sabtu minggu lalu, ke kebon binatang dan musium. Pokoknya aku cukup kenyang membaui bau hewan dan barang barang lawas. Hari Minggu nya kita nekad ke Ueno, padahal sudah bisa diprediksi bonbin di Ueno bakal rame. Bener juga deh, sejak dari stasiun sudah langsung ketemu lautan manusia. Di dalam bonbin kita rasanya cuma jalan jalan aja, gak niat buat ikut desek desek-an di depan kerangkeng gorilla ato macan. Tapi rasanya bagi Rui gak masalah, asal dia bebas jalan ke sana kemari sambil ngemil permen dan popcorn.

Dari bonbin, kita keluyuran di museum yang ada di deket sana. Kebanyakan aku duduk aja nungguin Rui diajak bapak-e ngelihat fosil dinosaurus. Wes, bosen aku ngelihat tulang, rasanya udah gak keitung deh berapa kali Rui nonton fosil binatang purba.

Hari berikutnya kita ke musium (lagi), padahal cuaca lagi gak bersahabat, dingin dan turun hujan, kita nekat ke Edo-Tokyo museum, ngelihat kehidupan Edo (Tokyo jaman dahulu). Lagi lagi aku banyak duduk aja, sementara Rui ngeluyur sama bapak-e.

Hari terakhir Golden Week, cuaca sudah gak bisa ditawar lagi, hujan turun deres banget, jadinya kita nyerah gak jalan kemana mana. Walaupun gitu, akhir minggu minggu depan bapak-e Rui udah ngerancang mau jalan lagi, ogah rugi gitu wong tiketnya masih ada segepok, pokoknya semua tiket harus dipakai sampai batas waktunya habis 2 bulan lagi. Wuah, bakalan ngukur jalan lagi nih.

Wednesday, April 29, 2009

Sepedah Rui

Waktu mudik ke Kediri tahun kemarin, Rui pernah jatuh dari sepeda mini. Akibatnya ketika balik ke Jepang dia jadi trauma. Beraninya hanya mau naik sepeda roda tiga kecilnya, dan mati matian gak mau dibeliin sepeda mini baru. Padahal tuh dia udah repot banget kalo naik sepeda roda tiga kecil itu, saking kakinya udah kepanjangan.

Tapi sejak Rui masuk TK dia jadi punya pandangan baru. Umumnya teman temannya kalo main di taman sudah pake sepeda mini (yang pakai roda bantuan di bagian belakang itu). Lama lama dia jadi pengen juga. Akhirnya 2 minggu kemarin kita ajak dia beli sepeda, warna dan modelnya dia yang milih sendiri.

Belakangan ini kalo hari libur, maunya sepedahan terus. Lega juga sih, akhirnya dia gak trauma lagi naik sepeda mini. Hanya aja kita jadi suka ngos ngos-an ngikuti Rui kalo sepedahan, soalnya dia masih gak kira kira sih, kadang suka ngebut kenceng banget, trus tahu tahu ngerem mendadak… bikin deg deg an aja deh. Mungkin sebaiknya kita juga pake sepeda aja ya ngikutin dari belakang, daripada capek lari lari. Hehe.

Friday, April 10, 2009

Acaranya Rui

Hari Jumat ini ada Nyuuenshiki (kindergarden entrance ceremony) di TK nya Rui. Persiapan kita sudah sejak sebulan yang lalu, mulai dari bapak-e Rui minta ijin libur dari kantor, trus beli segala macam perlengkapan Rui (baju resmi, topi sekolah, baju-luar untuk dipakai di sekolah, tas sekolah, dll), juga perlengkapan untuk aku sendiri.

Rada pusing juga, soalnya aku selama ini gak punya baju formal untuk kesempatan resmi kayak gini. Mana aku dalam keadaan hamil gini, mau beli baru kok sayang banget, harga baju formal di sini khan selangit, apalagi kalau yang model untuk orang hamil gitu khan terbatas, jarang ada diskon. Syukurlah pada akhirnya aku dapat lungsuran baju hamil formal dari teman. Lumayan menghemat deh, karena aku tinggal beli aksesori kembang buat disemat di bagian dada dan tas formal nya (duuh baru sadar deh, semua tas ku pun modelnya kasual, gak ada yang resmi blas).

Jumat pagi begitu bangun, kita langsung sibuk deh siap siap. Yang paling ribet sih siapin Rui. Walaupun sudah diberitahu jauh jauh hari sebelumnya, tetep aja dia rewel waktu mau ganti baju. Untung akhirnya dia mau juga pake kemeja baru nya. Hanya saja dia sempat ngambek waktu disuruh pake kaos kaki putih panjang polos, dia maunya pakai kaos kaki abu abu bermotif angka 55 yang biasa dia pake sehari hari. Setelah dibujuk bujuk, barulah dia mau pakai kaos kaki putih, tapi maunya kaos kakinya digulung sampai pergelangan kaki. Ya sudahlah, walaupun jadi kelihatan antik, pokoknya dia mau pakai aja.

Sampai di tempat acara, kita photo sebentar di gerbang sekolah, trus langsung masuk ke hall. Di sana sudah diatur kursi kursi. Anak anak duduk di depan, sedang para wali murid duduk di belakang. Awalnya sih Rui mau duduk di depan, di sebelah Yuma kun (temennya di playgroup Hiyoko dulu), tapi begitu acara pidato dari kepsek dimulai, Rui kabur ke belakang nyariin kita. Ya sudahlah, akhirnya sampai acara selesai, Rui duduk bareng dengan kita di belakang.

Acara selesai sekitar jam 12 siang. Setelah bubaran kita masih sempat nengokin kelas Rui nanti, oh ya Rui masuk Ume-Gumi, kelas bunga plum (atau bunga aprikot ya, hihi susah nerjemahkannya). Sayang sekali Rui gak sekelas sama Yuya kun (tetangga deket rumah), tapi lumayan lah ada 2 orang anak yang dulu sama sama ikut playgroup, yaitu Yuma kun dan Teppei kun.

Dari TK kita langsung pulang buat ganti baju dan trus jemput baba-san (omanya Rui) buat makan siang bareng di Oriental Hotel. Syukuran gitu ceritanya. Rui yang udah kelaparan, lumayan banyak makannya. Aku pengennya sih makan banyak juga, tapi nih perut rasanya udah sesak banget. Heran deh, belakangan ini rasanya perutku tambah gedhe dan tambah berat aja.

Selesai makan, kita masih jalan buat beli ini itu perlengkapannya Rui yang masih kurang. Walaupun persiapannya udah dari jauh jauh hari, tapi tetep aja masih ada printhil printhil yang kurang, seperti saputangan anak, kotak sumpit, lap meja, dll, mana semuanya harus dikasih nama – kebiasaan jepun sih, njelimet banget.

Wes, pokoknya mulai hari Senin nanti Rui bakal jadi murid TK. Karena masih masa transisi, sebelum jam 12 siang sudah pulang, dan gak perlu bawa bento. Semoga aja Rui nanti cepat bisa menyesuaikan diri dengan sekolah yang baru, teman2 baru dan guru2 barunya. Good luck, Rui!

Nb. Malamnya kita “syukuran” lagi, makan kue tart yang aku bikin sehari sebelumnya. Rasanya? Lumayan lah buat ukuran pemula, hehe.



Saturday, April 04, 2009

Musim Sakura

Lama gak posting, gara gara Rui sakit panas beberapa hari. Mungkin emang dia perlu istirahat, bulan Maret kemarin full kegiatan. Syukurlah sekarang sudah baikan. Syukur juga cuaca semakin hangat aja. Apalagi masuk bulan April, musim semi ditandai dengan mekarnya bunga sakura.

Kembang ini memang tergolong istimewa, karena mekarnya hanya setahun sekali, mana gak awet lagi, begitu mekar gampang rontok. Deretan pohon sakura di dekat rumah juga sudah pada mekar. Hanya saja karena daerah sini terletak dekat banget dengan laut, kalau pas lagi berangin ya banyak yang rontok deh kembang sakuranya.

Sabtu siang tadi kita isi dengan jalan jalan ngelihat kembang sakura. Banyak orang yang Hanami (piknik sambil memandang bunga sakura), lumayan rame. Rui senang sekali ngumpulin rontokan kembang sakura, setelah dapat banyak trus disebar sambil cekikikan. Habis gitu mungutin lagi, trus disebar lagi, begitu terus berulang ulang. Kok gak capek siih, tapi seneng juga ngelihat dia sudah sehat dan energik lagi.