Thursday, March 27, 2008

Baba san Datang

Baba san (neneknya Rui) datang dari Urayasu, mulai hari Rabu sampai Sabtu nanti beliau akan menghabiskan waktu di Hakodate. Sejak kemarin Rui udah high-tension aja, lumpat lumpat dan cekikikan melulu – pokoknya “caper” deh (cari perhatian), saking senengnya kali bisa ketemu Baba san lagi.

Hari ini kita charter taksi buat muterin Hakodate. Ongkosnya lumayan mahal juga sih, 14.000 yen selama 4 jam. Tapi puas banget kita bisa muterin Hakodate mulai dari biara Trappistine di perbukitan, taman Goryokaku, menyusuri bangunan tua di Motomachi, lalu berakhir di pelabuhan Hakodate. Bapak sopirnya merangkap guide dan tukang photo. Di semua tempat yang kita kunjungi, pak sopirnya ikut turun menemani kita sembari memberi penjelasan terperinci. Dan lagi beliau sangat tahu ngambil photo, semua photo diambil dengan latar belakang yang apik. Gak rugi deh kita bayar sewa mobil.

Beberapa photonya aku pajang di bawah ini.


Sunday, March 23, 2008

Paskah

Hari ini Paskah. Kita bertiga ke gereja Katolik Motomachi. Dari luar bangunannya keliatan gedhe banget, tapi ternyata ruangan misanya gak terlalu besar. Cuma emang altarnya megah! (sayang gak boleh ambil photo di dalam gereja). Diorama jalan salib di dinding gereja juga bagus, kuno dan berkharisma.

Di dalam ruangan misa, kita sempat tertegun. Lha wong yang datang semuanya tua tua, kebanyakan ibu ibunya berkerudung pendek dari kain putih tipis (aku gak tahu asal kebiasaan ini, tapi di gereja Katolik Jepang kebanyakan ibu ibunya kalo ke gereja kok pakai kerudung gini ya). Kedatangan kita cukup mengundang pandangan dari pengunjung gereja yang lain, lha wong Rui rada ribut waktu mau duduk di bangku.

Misa dimulai pk 10.30 pagi. Tahu gak, misdinarnya juga orang orang sepuh. Dan Romo nya lebih sepuh lagi (rambutnya udah putih semua, suara dan tangannya udah sampe gemetaran saking sepuhnya). Waktu Romonya membuka misa, Rui langsung nyeletuk (tentu saja dengan suara keras) “a! ojisan no koe da” (a! ada suara kakek). Langsung deh mulutnya Rui dibungkam ma bapaknya, hehe. Rui lumayan anteng sekitar 15 menit-an aja, waktu denger lagu dia bisa diem juga dipangkuan ku. Tapi habis itu mulai deh bosen, daripada ribut akhirnya cuma aku yang ikut misa. Rui diajak bapaknya jalan jalan di luar.

Misa hari ini murni bhs Jepang semua. Kalo di gereja deket Urayasu, salam damainya biasanya dalam bhs Inggris “peace be with you”, di gereja Motomachi “shu no heiwa wo”. Waktu kotbah, sempat beberapa kali ada jeda lumayan lama, Romo nya tahu tahu diem, tak pikir ketiduran (hush!) tapi trus kotbahnya berlangsung lagi.

Seperti biasa waktu komuni rasanya aku udah pengen nangis aja. Selalu deh begini, sejak tinggal di Jepang kalo ke gereja selalu aja jadi cengeng. Bukan… aku bukannya penganut agama yang sangat taat, wong ke gereja aja bolong bolong. Tapi kalo pas nerima komuni selalu aja terbayang wajah bapakku, ibukku, adikku… keluargaku di Indonesia sana. Pastinya mereka hari ini juga merayakan Paskah di gereja Kediri. Dan aku sangat kangeeeen. Ihik.

Dulu aku juga pernah berlinangan air mata waktu ikut misa natal di gereja Kasai, sampai nenek2 yang duduk di sebelahku sangat bersimpati dan ketika akhir misa beliau nunggui aku di pintu masuk sambil menyorong nyorongkan plastik berisi buah apel, katanya buat menghiburku (kok yo sempat2nya ya bawa apel segala ke gereja).

Sedang di gereja tadi, rupanya ada pula seorang ibu yang tahu aku sempat berlinang air mata. Beliau memaksaku untuk menerima beberapa biji telor Paskah – di pintu gereja emang ada pembagian telor Paskah, tapi aku gak ikut bergabung, lha aku merasa bukan umat resmi di situ, trus lagi yang dibagiin kayaknya kok orang2 tua melulu, mosok aku mau ikut ikut. Gak tahunya waktu di halaman gereja, aku disusul sama ibu (mungkin staf gereja kali ya), “dozo… dozo… “ (silahkan, silahkan). Aku jadi terharu lagi – selalu saja ada orang2 yang sepertinya mengerti aku lagi bersedih.

Happy Easter Day!

Saturday, March 08, 2008

Benci

Dari dulu rasanya aku gak pernah bisa ber-symbiosis dengan yang namanya kendaraan bermotor. Jaman SMA, aku bawa sepeda motor sendiri ke sekolah, walopun dasarnya aku bodo banget kalo bawa motor. Contoh real-nya aku gak bisa stater motor sendiri - waktu itu motor bebek-ku gak punya double stater yang otomatis, motornya harus distater pake ongkelan di kaki itu. Sayangnya aku yang cilik (dan nyaris kurang gizi ini, hihi) gak pernah bisa mampu mengeluarkan tenaga. Alhasil setiap pulang sekolah aku selalu jelalatan nyari pertolongan dari temen2 ato bahkan kalo gak nemu temen, nekad minta tolong Pak Bon yang lagi nyapu nyapu. Ngisin ngisin-i.

Kebodoanku memakai sepeda motor gak hanya urusan stater aja. Namun juga dengan urusan gas dan rem pun suka kebalik balik. Sehingga udah gak keitung lagi deh, berapa kali aku jatuh terkapar gara2 motor tak terkendali.

Ketika tinggal di Jepang aku sama sekali gak niyat buat nyetir mobil. Sungguh bersyukur dengan fasilitas transportasi yang lengkap – kalopun gak naik kendaraan umum, begitu cinta mengendarai sepedah onthel miniku. Namun ketika Rui genap setaon, dan aku merasa bosen dengan monoton hari hariku, suami nawarin untuk ikut sekolah mengemudi sekalian dapat SIM. Kalopun nantinya aku males nyetir, paling gak aku punya SIM lah.

Di sekolah mengemudi, teorinya berjalan lancar, test tulis pun muluuss, lha wong tinggal ngapalin buku plus kumpulan soal aja. Tapi lagi lagi aku harus mengakui kebodo-an ku waktu praktek nyetir. Wisss, instruktur nyetirku sampek pasang wajah boseeen banget, kalo aku dengan kagok-nya maju mundur terutama kalo pas pelajaran parkir. Adalah suatu keajaiban kalo pada akhirnya aku bisa berhasil dapat SIM dalam waktu “hanya” 4 bulan belajar aja.

Setelah dapat SIM, tentu saja aku jarang nyetir. Kalopun terpaksa banget, paling banter ke Itoyokado deket rumah Urayasu, karena lahan parkirnya luas dan sering sepi, sehingga aku bisa bebas milih tempat parkir yang enak (kalo gak di pojok-an biasanya aku milih yang kiri kanan nya gak ada mobil lain yang parkir, hehe).

Namun akhirnya aku ikut suami ke Hokkaido. Dan di sini, mau gak mau harus nyetir!! Selain supermarket, halte bus dan stasiun kereta lumayan jauh dari rumah, juga karena pas musim dingin sangat tidak memungkinkan untuk jalan kaki. Begitu banyak hari hari bersalju dan hawa dingin menggigit.

Begitu juga Jumat kemarin aku “harus” nyetir buat ngantar Rui ke klub bermain. Biasanya aku datang awal supaya bisa dapat tempat parkir yang luas, tapi hari itu Rui asyik banget nonton DVD Anpanman, butuh waktu lama untuk membujuk bujuknya. Alhasil kita berangkat mepet banget. Sampai di tempat parkir gedung Rainbow, olala! Sudah penuh mobil parkir. Ada 3 tempat parkir yang kosong, 2 di pojok tapi hanya untuk mini-car, mobilku gak bakalan muat. Apa dikata, aku harus parkir di tempat kosong lain. Malangnya tempat itu terletak di tengah2 dua mobil ukuran gedhe.

Keringat di dahiku sudah segedhe2 jagung, ketika aku sadar aku butuh lama untuk parkir. Dan aku semakin gugup ketika tahu di belakangku sudah berderet panjang mobil2 lain yang mau nyari tempat parkir. Piye iki, piye iki… (jadi ingat jaman SMA, mata jelalatan nyari pertolongan siapa nih). Syukur sekali ada ibu dari klub bermain Rui yang jadi dewi penolong. Dengan sigap ibu itu langsung ngambil alih setirku, dan wheeeer, mobil terparkir dalam waktu singkat. Leganya… sekaligus, malunyaaa aku.

Sekarang ini aku sedang berharap harap semoga musim semi segera tiba, gak ada hujan salju, gak ada jalanan licin, sehingga aku gak perlu nyetir sendiri (iri banget dengan cuaca di Tokyo yang udah anget). Nyetir bagiku sangat melelahkan, jasmani dan rohani. Sungguh, aku benci nyetir.

Monday, March 03, 2008

HUT

Rui, manusia kecilku kemarin genap berusia 3 tahun. Gak ada acara istimewa. Dengan berbagai alasan, kita gak beliin dia kado ultah – karena kita sudah males buat nambah barang di rumah sini, padahal bulan depan kita harus balik ke rumah Urayasu (toh Christmas kemarin juga sudah banyak mainan yang Rui dapat). Gak ada kue tart juga karena Rui lebih memilih danggo (kue mochi) sebagai kudapannya.

Pagi hari Minggu kita ajak Rui main di chibiko hiroba Nagasakiya. Gak main main, kita ambil tiket main selama sejam. Hasilnya Rui bisa puaaas main kejar kejaran balon, terjun di kolam bola, selurutan, gonta ganti naik kuda goyang, muter muter panjat sana sini, pokok-e sampe dia terhuyung huyung kecapekan dan rambutnya kelimpis basah oleh keringat.

Dan kemarin ada surprise dari suami buatku, aku dikasih voucher massage dan relaksasi sebagai tanda terima kasih atas “jerih payahku” selalu mendampingi Rui. Senengnya.

Ultah Rui bukan hanya sekedar peringatan hari lahirnya Rui, tapi juga di hari yang sama 3 tahun yang lalu, aku pun memulai tugas baruku sebagai seorang ibu. Bukan hanya Rui yang bertumbuh, aku pun serasa ikut “bertumbuh”. Keajaiban Rui begitu banyak memberi peran pada perubahanku. Walopun kuakui bahwa ternyata jadi ibu itu gak gampang. Namun, sungguh, aku begitu menikmati jadi ibunya Rui.

Happy birthday, Rui.