Tuesday, February 20, 2007

Foundation

Sejak dulu aku gak doyan dandan. Lebih tepatnya lagi gak telaten kalau soal penampilan. Baju gak pernah ngikut trend, gak pernah terikat pada satu merk. Beli baju karena kebutuhan, jadi seandainya ada barang murah pun kalau lagi gak butuh ya lewat aja. Gak perlu heran kalau selama di negeri sendiri bajuku bisa dihapal orang, saking cuma itu itunya yang dipakai. Masih mending sekarang tinggal di Jepang yang punya empat musim, mau gak mau harus punya baju agak banyak biar gak kedinginan di musim dingin dan gak kepanasan di musim panas.

Gak cuma baju, aku juga paling males dengan urusan kosmetik. Dari dulu paling banter aku hanya pakai pelembab dan bedak aja. Waktu jamannya kerja di Sby, agak kemayu dikit sih, sering pakai mascara, tapi gak awet karena kalau capek aku suka ngucek2 mata, jadinya kayak panda - sekitar mata bunder menghitam. Pada akhirnya back to basic deh, pelembab dan bedak aja. Eye shadow? Males dan gak bakat ngurek2 pelupuk mata. Pensil alis? Gak bisa nggambar alis yang oke. Tabir surya ultraviolet? Walah… Gak baju, gak kosmetik selama ini aku gak merasa butuh yang macam macam.

Belakangan ini aku punya masalah dengan jerawat. Gemes deh, kenapa sih jerawat sekarang betah banget nangkring di pipi. Bukan jerawat gedhe sih, tapi keliatan bercak merah gitu. Kok wajah gak pernah mulus lagi sih (sadar umur dong… sudah 34 ini).

Dua minggu ini ketika lihat drama korea di tv rumah Urayasu, jadi tersadar “cling” (lengkap dengan gambar lampu dop menyala di kepala kayak di kartun2 gitchuu…). Sadar tentang apa? Selama ini aku lihat drama korea di rumah Ibaraki yang tivinya biasa, ketika balik lihat tv rumah Urayasu yang high-vision, jadi keliatan banget kalau artis2 (dan juga aktornya) yang main di drama Korea itu mukanya keliatan mulus mulus karena bedaknya juga oke. Dan berdasarkan kesimpulan sendiri, pasti mereka semua pada pakai foundation. Gak mungkin lah bedak aja bisa bikin efek semulus itu, pastilah sebelum dibedaki, bercak2 wajah, kukul dan segala macemnya ditutup pakai foundation. Eureka!!

Sampailah aku hari minggu kemarin termangu mangu di depan konter kosmetik Itoyokado (jangan heran kalau aku bisa termangu mangu, karena ada suami yang ngawasi si kunyil-ku. Kalau gak ada suami, gak bakalan deh Rui “biarin” emaknya punya kesempatan termangu mangu). Aku putusin beli foundation buat nutupi bercak2 wajah dan jerawatku, biar mulus kayak mbak mbak dan mas mas yang main di drama korea itu.

Tapi ternyata yang namanya foundation itu bermacam macam yah. Ada yang water-base, ada yang liquid, ada yang cream…. Bbbrrrrllll, pilih yang mana nih. Gak sangka kalau di dunia ini ada bermacam macam “ras” foundation dan aku ini seperti kesasar di hutan kosmetik. Tipe wajah sendiri aja gak tahu, eehhmm dulu sih rasanya tipe wajah kering, gak pernah jerawatan, kalau sekarang jerawatan berarti tipe wajah berubah jadi berminyak kah? Bbbrrrrllll (lagi).

Terkaget waktu disenggol suami, wajahnya sudah bosen aja ngelihat aku kebingungan sendiri. Dengan bloon-nya aku tanya ke suami “dochi ga ii?” (mana yang bagus?). Lha laki mana ngerti sih. Dia juga sudah setengah suntuk megangi Rui yang mulai nggeratak-i contoh2 bedak dan lipstik di konter. Akhirnya dengan terburu buru aku sambar aja salah satu, dengan pertimbangan akhir – yang harganya paling murah. DHC Q10 Cream Foundation 1.500 yen. Semoga aja nantinya cocok, semoga aja jerawatku bisa dimanupulasi, dan wajahku jadi mulus kayak bintang sinetron Korea.

Ps. Beli foundation aja kayak bikin sejarah besar aja sampai di-posting segala. Hii

Friday, February 16, 2007

Ikspiari

Jumat siang jalan ke Ikspiari. Duh lama banget rasanya gak nengok tempat ini yang letaknya cuma berjarak satu stasiun kereta aja dari rumah. Sekalian tadi ketemuan sama Mbak Retno, Ai chan dan ibunya Mbak Retno yang lagi ada di Jepang (tapi minggu depan sudah kembali lagi ke Indonesia. Yaaa….ah, rasanya cepet banget, padahal beliau sudah datang ke Jepang sejak akhir Oktober tahun lalu, tapi aku baru sempat ketemu tadi).

Kita lunch di Rain Forest Café, tempat makan yang kayaknya pantes buat anak anak. Terbukti Rui dan Ai chan lumayan anteng di dalam restoran yang bernuansakan hutan, lengkap dengan hiasan aneka binatang (di antaranya ada yang bisa bergerak gerak, seperti gajah dan gorilla), ada juga aquarium gedhe yang berisi ikan beneran. Rui dan Ai chan sempat kaget waktu lampu ruangan meredup dan terdengar suara mirip halilintar, tapi rupanya anak dua itu sudah ngerti kalau itu cuma bohong-bohongan aja, gak bakalan turun hujan beneran.

Jam 3 sore kita sudah cabut, pulang misah sendiri sendiri. Rui juga kelihatan ngantuk. Cuma sebentar emang ketemuan kita, tapi lumayan seneng.
Aaa….ah emang lebih enak tinggal di kota, deket kemana mana, mau ketemuan ma temen juga gampang. Jadi males deh mbayangin kalau harus balik ke Ibaraki.

Monday, February 12, 2007

Kalau Rui Sakit

Hari Rabu kemarin Rui muntah muntah dan badannya panas. Kejadiannya pas tengah malam, yang bisa aku lakukan cuma nempelin hie-pita di dahinya, pertolongan pertama biar panasnya turun. Syukurlah Rui bisa tidur, walaupun berkali kali bangun, minta minum karena kehausan.
Esok paginya karena panasnya gak turun, kita bawa Rui ke dokter. Setelah dikasih obat dan pulang, di rumah Rui kelihatan lemes banget.

Duh, hatiku merana. Mentari pagiku serasa berselaput awan tebal. Melihat Rui jadi begitu layu, merunduk lemas seperti kembang dalam vas yang terlupakan. Rui cuma bisa tergolek layaknya bayi lagi, dia juga pasrah aja waktu pampersnya diganti atau waktu badannya dilap pakai handuk hangat. Rui juga gak doyan makan, ditawari coklat pun dia geleng geleng, padahal biasanya dia paling beringas kalau lihat coklat.

Rui ku, Rui ku sayang, cepat sembuh ya. Kalau sehat kembali, marilah main kuda kudaan lagi sama mama (biarpun pinggang serasa copot dianjrut anjrut Rui), marilah lumpat lumpat lagi, marilah bongkar mainan dan disebar ke seluruh penjuru rumah lagi…. Mama gak bakalan ngomel, mama gak bakalan marah asal Rui sehat kembali.

Thursday, February 01, 2007

Sarden

Hari ini aku makan banyak sekali. Lawuh-e ikan sarden kalengan, ditambahi bawang putih, bombay dan wortel. Sayang lomboknya ketinggalan di rumah Urayasu semua. Tapi gak pakai cabe pun wis huenak tenan.
Didid....! Thank you buat sardennya ya. Gak bakalan nolak kalau lain kali disangoni sarden lagi. Hihi.