Thursday, December 27, 2007

Menyambut Taon Baru

Niatnya mau bikin pr lemparan dari Niken, tapi dari tadi mikir kok mbulet ae. Susah mau nentuin 8 resolusi untuk taon yang baru. Pertama mikir, resolusinya gak sampai lapan biji, tapi setelah dipikir pikir lagi lha kok resolusinya jadi membengkak lebih dari selusin (janji mau jadi ibu penyabar, janji lebih aktif ikut kegiatan luar rumah, dll) walah kok daftar-e jadi puanjang.

Akhirnya aku simpulkan aja resolusiku untuk tahun ke depan: Menghilangkan Sungut. Bukan berarti di atas kepalaku tumbuh sungut kayak Jimmy Jengkerik nya karakter Disney. Tapi aku bertekad untuk tidak lagi jadi orang yang suka bersungut sungut. Tahun 2007 ini aku merasa terlalu sering bersungut sungut. Bersungut sungut ketika harus pindah pindah ikut irama kerja suami (dari Urayasu-Ibaraki-Urayasu-Hokkaido). Bersungut sungut ketika Rui semakin gede dan keras kepala. Bersungut sungut ketika bosen di rumah (tapi males keluar rumah karena pastilah harus engkel-engkel-an sama Rui soal baju ganti, sepatu, etc dan meladeni kerewelannya). Bersungut sungut ketika pengen beli ini itu tapi keuangan mepet. Bersungut sungut ketika pengen kurus (tapi gak pernah bisa berhenti mengunyah). Bahkan untuk hal remeh temeh pun selalu bersungut sungut, dari soal peraturan buang sampah di rumah Hokkaido, sampai ke soal uban yang tambah banyak aja.

Semoga aja di tahun yang baru nanti, aku lebih bisa berlapang dada. Iklas dan bersyukur dengan keadaan yang ada.

Tahun 2006 dan 2007 begitu banyak “deai” (pertemuan) dan “wakare” (perpisahan). Bahkan Rui yang masih semuda itu banyak sekali menemui deai-to-wakare. Tinggal berpindah pindah dari satu kota ke kota lain plus 3x mudik ke Indonesia, bayangkan betapa banyaknya orang yang sudah ditemui dan bermacam perpisahan yang harus dia alami.

Bagiku tahun 2007 serasa cepat berlalu, begitu banyak kejadian yang terjadi. Yang paling dominan kejadian di keluarga suami. Betapa kita sangat bersedih ketika Tomoko san (istri dari adik suami) kena leukemia. Dan betapa bersyukurnya kita ketika bulan November kemarin akhirnya dia bisa dapat donor dan menjalani operasi, semoga proses penyembuhannya bisa berjalan lancar nantinya.
Sedang kejutan yang paling besar tahun ini adalah adikku menikah 15 Desember kemarin. Sampai sekarang rasanya masih kayak mimpi, adikku lanang satu satunya itu sekarang sudah jadi suami. Sempat merasa sedih karena dari dulu aku berharap untuk bisa menyaksikan hari di saat dia menikah. Tapi aku sudah gak mau menambah jumlah “sungut”ku, aku juga gak berhak mencampuri jalan hidupnya. So, aku hanya bisa mendoakan dan memberi selamat dari jauh aja.

Demikian kilasanku menyambut tahun yang baru nanti. Buat Niken, semoga gak kecewa, karena jawaban pr-nya sudah melenceng jauh. Jangan disetrap ya bu guru…hehe.

Doll House

Tahun lalu, kado Natal Rui mainan lego seri kebun binatang, lengkap dengan aneka binatang dari gajah, ikan paus sampai chimpanzee. Tahun ini bapaknya Rui pengen ngasih lego seri castle, tapi tak lihat kok ukuran legonya kecil kecil dan rumit. Emang sih kalo sudah jadi penampakannya bakal keren banget, ada kotak harta karun, bendera, dan knight-warrior ukuran mini segala (curigesyen jadinya, jangan jangan yang pengen mainan castle itu bapaknya, huahaha).

Trus kita nemu seri doll-house. Waduh, aku langsung jatuh cinta (lha ini malah emaknya yang pengen, hehehe, masa kecil kurang bahagia). Seri ini, ukuran legonya masih lumayan gedhe, sangat cocok buat anak2 seusia Rui. Akhirnya yo wis, kado natal Rui tahun ini lego seri doll-house.

Tanggapan Rui? Lumayan tertarik, seringnya sih dia lebih tertarik untuk membongkar daripada membangun. Gak habis pikir deh, apa sih asyiknya njeboli pintu dan jendela. Tapi kalo aku sudah mulai asyik “membangun” dan “merancang” kamar kamar, Rui pun ikutan semangat buat mainan juga. Kalo sudah gitu pasti deh kita bentrok. Aku maunya bikin doll-house yang sewajarnya, sofa di kamar tamu, meja makan deket dapur, dll. Sedang Rui rancangan arsiteknya masih full imajinasi tak terbatas. Lha mosok di ruang tamu dipasangi toilet. Di atas kompor ditaruh aquarium. Atau di atas cerobong atap ditaruh gajah dan lumba lumba (kalo ini mah udah dicampur aduk sama lego yang lawas).

Yang jelas saben hari lay-out doll house itu gak bakalan sama. Karena setelah puas “membangun” Rui bakalan kembali ke ritualnya, jebol sana sini. Hihi.

Monday, December 24, 2007

Tuesday, December 11, 2007

Tanjoubi

Hari ini papanya Rui tanjoubi, ultah yang ke 34 tahun. Gak ada perayaan spesial di rumah. Kalo jaman dulu sebelum punya anak lebih focus kali ya, pakai siap2 kado kejutan segala, hehe.

Buat isi postingan kali ini, aku pajang aja photo2 papanya Rui waktu jaman cilik dulu. Photo sewaktu masih batita, kemudian waktu TK, dan yang terakhir photo berdua dengan adiknya yang beda umur 5 tahun. Gimana? Kayaknya gak mirip Rui sama sekali ya. Berarti Rui mirip mamanya dong, hihi…





Kenji san, tanjoubi omedetou!!

Saturday, December 08, 2007

Cerita seputar winter

Tambah dingin aja di sini. Pagi waktu lihat tipi, berita yang paling dinanti adalah ramalan cuaca, dan merasa sangat bersyukur bila hari itu diramal cerah dengan suhu 4 derajat celcius. Suka cekikikan sama suami, waktu kita bisa bilang “hangat” untuk suhu 4 derajat, lha wong seringnya suhu berkisar di bawah nol, gak jarang sampai minus 2 derajat.

Walopun hawa dingin menggigit, tapi teteup aja Rui lebih seneng main di luar. Melasaki salju yang sudah setinggi dengkulnya, bikin yukidaruma (snowman), ato lempar lemparan bola salju. Belakangan ini aku suka ngajak dia ngebersihin salju yang menimbun mobil. Padahal sejak hari jadi bersalju, aku gak pernah berani lagi bawa mobil sendiri. Dasarnya aku gocik, suka takut takut wis mending gak nyetir aja. Walopun mobil jarang dipakai, tapi kegiatan bersihin salju lumayan cukup lah buat menghabiskan energy Rui. Dan lagi seandainya malam2 bapaknya Rui pengen pakai mobil sudah enak, tinggal pake aja.

Photo di atas kiri, Rui waktu umur setaonan, waktu dia masih baru bisa jalan dan masih iler-an. Waktu itu dia sudah punya baju anget yang karena emaknya ogah rugi, maksa beli yang ukuran gedhe, sehingga ketika dipakai, Rui-nya kayak ditelan baju raksasa. Tangan dan kakinya sama sekali gak tampak. Sekarang baju anget itu sudah pas banget di badan Rui (photo atas kanan). Baju itu khan modelnya mirip ski-wear, nyambung dari atas ke bawah. Pokok-e kalo pakai baju ini sudah gak kuatir basah deh kalo Rui mainan salju. Mana bajunya anget banget, sering di dalam baju ini Rui hanya pakai kemeja biasa dan celana pendek aza. Hehe.