Saturday, March 31, 2007

TDL (Tokyo Disney Land)

Dum.. dum.. dum.. rasanya masih pengen nyanyi2 kecil. Sepulang dari TDL selalu begitu, serasa kena tenung, seperti masih diselubungi aura suka cita. Kamis kemarin aku memanfaatkan waribiki-ken (tiket potongan harga) dari Niken. Kebetulan juga Niken lagi pengen ke TDL jadi sekalian aja kita sana barengan. (Niken, makasih ya tiketnya).

Aku datang rada siangan, karna belakangan ini si boss kecil selalu telat tidurnya, dan kalau telat tidur, bangunnya pun pasti telat. Sekitar jam 11 siang aku dan Rui baru sampai di Maihama Eki. Rui yang sudah ketularan “aura” gembira emaknya, dari pintu keluar stasiun kereta dia langsung lari ke arah pintu masuk TDL. Lumayan terbirit birit aku ngikuti dia. Duh, dari awal sudah diajak lari larian nih.

Wah, hari Kamis itu pengunjung TDL lumayan padat, maklum lagi musimnya liburan musim semi. Atraksi apapun pasti ngantri panjang. Setelah ketemu Niken dan Aya chan di area Toon-Town, kita nyari atraksi yang agak sepi, dan nemu Tom-Sawyer. Naik rakit bermotor (yang suaranya ribut banget) nyebrang ke pulau tengah danau. Di sana Aya chan dan Rui pada seneng menjelajah naik naik gunung batu.

Habis gitu kita nonton parade. Duh, anak anak sudah pada ngerti, seneng banget bisa lihat karakter2 Disney berparade. Tangannya Aya chan sampai semangat nari nari. Sedang Rui cukup anteng di pangkuanku, sekali sekali aja dia teriak teriak saking hepinya.

Begitu parade selesai, kita ke It’s a small world. Naik boat kecil ngelihat boneka2 dari berbagai negara. Sayangnya Rui ketakutan terus. Padahal gak ada yang menakutkan, dia memang gak terlalu suka ruang tertutup. Sekitar jam 6 sore-an kita sudah cabut dari TDL. Emang gak banyak anjungan yang kita kunjungi. Tapi cukup lah, anak anak juga kayaknya sudah lumayan capek.

Niken, kapan2 kita main bareng lagi yah ke TDL. Semoga aja tahun depan juga ada waribiki-ken lagi. Gak bakalan nolak kalau dikasih. Hihi.

Tuesday, March 27, 2007

Toyosu - Lalaport

Hari Selasa aku janjian lunch di Lalaport Toyosu yang deket dengan rumah Mbak Retno. Ceritanya temenku ini mau ngasih tempe, dan kue kering (putih salju dan kastengels – duh yang namanya rejeki gak kemana. Matur nuwun, matur sembah nuwun). Karena aku belum pernah ke Lalaport Toyosu ini, jadi sekalian jalan jalan aja.

Di Lalaport Toyosu kayaknya banyak toko2 yang menarik, tapi karena ada precil2 (Rui dan Ai chan) kita gak bisa santai lihat lihatnya. Aku tadi sempat merasa minder banget, perasaan yang datang di Lalaport pada keren keren dandannya. Apa ini akibat kelamaan tinggal di pelosok Ibaraki sana ya, hehe.

Acara kita di Lalaport cuma lunch dan ngikuti anak2 mandi bola di tempat main Sanrio. Aku mau cerita tentang restoran tempat kita makan tadi. Nama restorannya lupa2 ingat – Candy atau gimana gitu. Yang jelas interiornya pop banget. Didominasi warna merah mencolok, langit2nya juga dihiasi bola bola merah dari beludru. Kita masuk restoran itu gara2 Rui sudah nunjuk2 pengen nyelonong masuk aja. Daripada ribut ya marilah kita ikuti kehendak si boss kecil.

Menu yang tersedia biasa aja, kare-rice, spaghetti, hamburger, dll semacam family restoran gitu. Cuma yang gak biasa, mbak mbak pelayannya pada pakai celemek pendek, hot-pants dan kaos kaki putih setinggi lutut, trus kalau ngantar makanan pesanan ke meja pasti sambil nyanyi lagu anak anak. Pertama aku pikir ada yang ulang tahun. Kadang2 di beberapa restoran di sini khan juga gitu, kalau ada yang ultah, waitress nya pada nyanyi lagu ulang tahun.

Ternyata pikiranku salah sodara sodara. Gak peduli ada yang ultah atau gak, semua makanan pesanan pasti dihidangkan bersama dengan suara nyanyian mbak pelayan. Jadi serasa berkunjung ke maid-cafĂ© kayak yang aku pernah lihat di tv. Dan kalau sudah denger pelayannya pada nyanyi, Rui dan Ai chan langsung tertegun bengong kayak merasa aneh gitu. Haha. Sementara aku dan Mbak Retno cuma bisa cekikikan. Moeeee…..

Acara Doa


Acara doa di rumah Kamis tanggal 22 yang lalu berjalan lancar, walaupun tanpa magic. Hanya pakai trik. Karena semuanya gak bisa dibikin sekaligus, mulai Senin sudah harus cicil mencicil. Senin, bikin rendang ayam dan nggoreng krupuk. Selasa bikin sop kembang tahu. Rabu bikin pudding mangga, siangnya ngambil kue tart pesenan di Daie Shin-Ura, sedang sorenya beres beres rumah tahap terakhir (sekujur lantai di-lap basah, sebagian besar mainan Rui masuk kardus cuma sebagian kecil aja yang disisakan di ruang tv, trus nyiapin gelas piring sendok). Kamis pagi bikin nasi kuning, dan Kamis siangnya tamu2 pada datang.

Berterima kasih sekali dengan pendiri Indofood, siapa pun orangnya, tanpa adanya bumbu instant gak bakalan aku bisa cepet bikin makanan. Beruntung juga ada produk instant pudding mangga di supermarket, tinggal nyampur air panas dan susu, gak sampai 5 menit sudah jadi. Walaupun gak bikin beragam lauk, tapi dengan sumbangan masakan dari ibu2 lain, meja makan pun jadi meriah. Lumayan repot, tapi seneng juga kedatangan banyak tamu di rumah.

Tuesday, March 20, 2007

Back to Urayasu

Selesai sudah "tetirah"ku di Ibaraki. Selamat tinggal supermarket Kasumi, pasar ikan, lapangan kosong tempat Rui biasa main, obasan tua yang punya kebun lobak di sudut jalan tanjakan, selamat tinggal rumah Ibaraki.....

Kembali ke peradaban modern di Urayasu (duh muluknya). Lega sekali bisa pulang ke rumah sendiri, home sweet home. Walaupun banyak kerjaan yang harus dilakukan, debu rumah menumpuk, tanaman di beranda merana, tapi aku merasa hepi dengan kepraktisan di sini. Mau belanja, deket. Mau ke eki (stasiun kereta) deket. Mau sepedahan juga gampang. Kaiteki, kaiteki.

Minggu ini ada kesibukan tambahan, karena tanggal 22 aku ketempatan acara doa. Sebenarnya bulan ini mau diadakan di rumah Kak Titin. Tapi aku minta di tempatku aja. Kangen bikin acara di rumah. Sekalian juga tanggal 2 yang lalu Rui ultah, tapi aku gak bikin apa2 di Ibaraki. Ya udah bancakan aja di rumah Urayasu.

Jadinya sibuk, sibuk dan sibuk. Bersih2 rumah dan bikin masakan dikit. I need a magic! Sayang aku gak punya lampu wasiat. Aku juga gak punya mantra yang bisa bikin Rui anteng dan tidur. So, gak bisa buang waktu nih, harus kembali bersihin rumah, pegang wajan dan suthil.... Isogashi.

Saturday, March 10, 2007

Ketemuan

Seminggu yang lalu kita ketemu Helena Sato. Sudah lama banget gak ketemu Lena. Terakhir ketemu hampir 4 tahun yang lalu kali ya, waktu Lena nginep di rumahku sama Sintaro, anaknya. Rui belum lahir (aku juga belum hamil), masih bisa masak2 komplit ketika ada acara doa di rumah. Kebetulan Lena juga kenal dengan pendeta Azumi-nya gereja Megumi dan sempat kaget waktu tahu bahwa acara doa di rumahku saat itu dipimpin pendeta Ayub. Secara pendeta Ayub juga suka melayani di gereja Lena di Tochigi.

Lena ini dulu kerja di Hitachi Jakarta, sedangkan aku di Hitachi Paiton. Ketika Lena menikah dengan Sato san, dia duluan yang terbang ke Jepang. Sehingga ketika aku juga menyusul ke Jepang, kita dulu suka main bareng.

Pada akhirnya setelah aku hamil, melahirkan Rui dan sibuk dengan urusan anak, kita jadi gak pernah ketemu. Mau main juga sudah wegah bayangin jauhnya Tochigi dari Urayasu. Tapi sekarang mumpung aku tinggal di Ibaraki, kita sempatin ketemu dengan Lena sekeluarga. Aku bayangin dari Ibaraki paling gak sejam aja sudah nyampe lah. Tapi oh tidak, sodara sodara, dari Ibaraki ke tempat Lena masih makan waktu 2 jam!! Pakai kesasar lagi, karena mobil suami gak ada navigator.

Pas akhirnya ketemu, lega banget deh. Barengan kita main ke onseng (pemandian air panas), Rui tak serahin suami biar masuk ke tempat mandi laki laki. Sintaro yang sudah kelas 2 SD juga gak mau masuk tempat mandi perempuan, maunya ikut Sato san. Jadilah aku dan Lena bisa nyantai berdua. Aaa….ah sudah lama rasanya gak ngobrol2 berdua aja sama teman.

Habis dari onseng, kita rencana mau makan Indonesia di restoran Kampung Bali, tapi ternyata belum buka. Akhirnya banting setir ke Kappa sushi. Eh, Lena sudah bisa makan sushi rupanya, jadi inget dulu waktu baru pertama di Jepang dia khan belum bisa makan ikan mentah. Yokatta ne, Lena.

Hari yang menyenangkan, ketemu teman lama, santai di pemandian air panas, makan sushi barengan…. Kapan kapan ketemu lagi ya.

Friday, March 02, 2007

Ni sai ni narimashita

Tanggal 2 Maret ini Rui genap 2 tahun.

Ketika baru lahir, wajah Rui mirip banget dgn wajah papa mertua. Kemudian wajahnya dikit2 mulai berubah. Waktu umur setahun jadi keliatan kalau matanya bukan mata Jepang (suami seneng banget, secara dia selalu berangan angan punya anak yang matanya gedhe). Mendekati umur 2 tahun semakin terlihat bahwa Rui punya wajah Indonesia, mirip wajah ibuk dengan hidungnya yang mungil itu (hihi).

Tahun depan kalau Rui tambah usia lagi, pastilah ada yang berubah lagi. Sampai sekarang suami masih berharap bahwa rambut Rui bakalan ikal kayak rambutku. Wuah, kalau soal rambut, mending lurus aja ikut suami, biar gak susah ngurusnya.

Rui san, ni sai ni natte ureshi ne. Omedetou. Yukkuri okiku natte kudasai. Itsuma demo anata wa papa-mama no ichiban no takaramono.