Monday, February 11, 2008

Yuki Matsuri

Pfffiuuuh!! Akhirnya jadi juga pergi ke Sapporo buat nonton yuki-matsuri (snow festival). Sempat kethir-kethir bisa berangkat gak, karena suami hari Sabtu masih kerja (hari Senin juga kerja walopun tgl merah). Sempat mau nekad berangkat berdua aja ma Rui, tapi trus disindir ma suami “jangan! bisa2 nanti Rui kamu tinggalin di Sapporo” – hihi, tau aja kalo belakangan ini aku sering berantem ma Rui. Tapi ya gak mungkin lah yauuw, mosok mau menelantarkan anak sendiri…

Perjalanan dari Hakodate ke Sapporo makan waktu 3 jam naik kereta Tokyu. Rui sempat tidur sejam di kereta waktu berangkat, lumayan lah kita juga bisa merem sebentar. Sesampai di Sapporo kita jalan kaki sampai ke arena yuki-matsuri, langsung deh kita serasa tenggelam dalam arus manusia. Pengunjungnya peh-peh uyel uyelan koyok basar tujuhbelasan (hihi). Langsung deh kita nyari tempat buat mainan Rui (seperti yang diinfokan Imoet, makasih ya say. Sayang banget kita belum jodoh, gak bisa ketemuan lagi).

Sampai di arena mainan anak, wualah walah, ngantrinya panjang berkelok kelok. Mau masuk kamakura (rumah2an berbentuk bunder kayak iglo) aja ngantri panjang bener. Akhirnya kita batal gak ngajak Rui main, lagian kita pikir Rui juga udah puas main perosotan di Oonuma lake. Sekedar info aja, di danau deket rumah itu 2 minggu yang lalu juga ada snow festival, scale-nya kecil sih, gak seheboh Sapporo Yuki Matsuri. Di sana Rui sempat main perosotan dan naik buggy ma bapaknya (photo di bawah ini).


Akhirnya di Sapporo kita hanya jalan aja ngelihat lihat. Walaupun banyak pengunjung tapi lumayan lah kita bisa ambil photo2 bagus. Kita juga sempat muter lumayan jauh lihat gedung2 tua, sekalian nunggu jam kereta kepulangan kita.

Di dalam kereta waktu pulang, Rui kok tahu tahu inget jamannya dia naik pesawat. Setiap crew-nya kereta yang pakai baju kayak pramugari pesawat itu lewat, langsung deh Rui nagih, minta mainan. Duh, duh le, ini khan kereta gak bakalan deh dikasih mainan kayak di pesawat. Alhasil kita harus bujuk-bujuk Rui, mana selama perjalanan pulang Rui gak mau tidur. Waktu disuruh tidur, Rui malah nyanyi lagu Nina Bobok dengan suara lantang. Pasti deh penumpang yang segerbong dengan kita pada bertanya tanya, nih anak nyanyi pakai bahasa apa. Hihi.

Satu lagi kenangan buat kita, bisa mengunjungi Sapporo Yuki Matsuri. Cepet sekali waktu berlalu, sebentar lagi kita bakalan meninggalkan Hokkaido.

Friday, February 01, 2008

Cinta Tak Bersyarat

Saat Rui lahir dahulu, aku selalu menganggap bahwa hanya Rui lah satu satunya bayi yang paling manis sedunia. Namun ketika bayi itu mulai beranjak jadi anak, ada kalanya aku berpikir bahwa Rui tidaklah semanis yang aku bayangkan. Kadang aku bertanya ke ibukku, pernahkah aku di masa kecilku, terlihat tidak manis di mata beliau. Jawabannya, “kamu selalu manis, nduk. Anteng, gak pernah bikin repot orang tua”. Benarkah begitu, karena pastilah yang namanya anak anak pernah berlaku tidak manis. Ataukah cinta ibuk kepadaku demikian besarnya, sehingga aku selalu manis dalam ingatannya.

Rui, manusia kecilku tengah bertumbuh. Hari demi hari selalu saja aku tercengang cengang. Ada kata-kata baru, penemuan baru, kepandaian baru… di balik itu ada “ketakutan” ketika bayi manisku mulai bisa memberontak. Jadi egois, raja-tega, emosi tak stabil. Saat saat aku merasa “takut” kehilangan kontrol akan dirinya, selalu saja aku bergumam “Rui, seandainya kamu pacarku, pasti sudah dari dulu kita putus hubungan”.

Namun apa bisa aku putus hubungan dengan Rui, wong dia pernah tinggal di rahimku, pernah jadi bagian dari tubuhku. Dan aku kembali “jatuh cinta” dengan Rui. Waktu aku jadi banyak diam, Rui cium tanganku sambil bertanya “mama, doushita no” (mama, kenapa). Waktu air mataku berlinang linang sehabis lihat film Anpanman – inochi no hoshi no dolly, Rui menyodorkan tissue “mama, nakanaide” (mama, jangan menangis). Rui, anakku…. Mungkin inilah yang disebut sebagai cinta tak bersyarat. Seperti cinta ibukku, cinta orang tua pada anak anaknya.

Rui belum lagi genap 3 tahun jadi manusia. Aku pun baru 2 tahun 10 bulan jadi ibu. Pastilah nantinya masih ada benturan, pertengkaran baru. Namun semarah apapun aku, semuak apa pun, aku tak akan pernah kehilangan cintaku pada Rui. Sehingga di masa depan seandainya Rui dewasa menanyaiku bagaimana masa kecilnya, pastilah aku akan bilang “kamu anak manis, le”.