Monday, December 25, 2006

Anniversary


Ini bahasan lawas, tapi baru sempat diposting sekarang.

November 12, hari istimewa. Di tanggal ini 7 tahun yang lalu, aku dan Kenji san menikah. Cepat sekali waktu berlalu. Kini ada Rui juga yang meramaikan hari hari kami. Aku jadi ingin merenung, mengingat asal muasal hubungan kita.
Rasanya aku masih merasa begitu muda waktu kerja di Paiton. Seenaknya sendiri menuruti kata hati, dan gak takut dengan dunia. Berkali kali putus cinta, terbanting banting, menangis tapi ogah jadi frustasi.

Pertama kali Kenji san tiba di kantor Paiton, sama sekali gak ada jejak ingatan. Begitu banyaknya orang asing yang datang dan pergi, sukar buat mengingat satu persatu. (Belakangan aku baru tahu, bahwa Kenji san masih inget waktu pertama kali masuk kantor Hitachi Paiton, begitu lihat aku, dia mbathin, ni cewek kok judes banget keliatannya. He he. Kayaknya hampir semua orang mbathin begitu kalau ketemu aku pertama kali).
Gak jelas gimana awalnya, lama lama kita jadi dekat, hari Minggu kalau lagi off dan ke Sby, jadi sering jalan bareng, kebanyakan sih makan dan nonton aja. Ketika pada akhirnya dia bilang pengen ngajak pacaran, aku nanggapi dengan enteng sambil bilang bahwa aku sudah bosen pacaran cuma buat hahahihi aja, kalaupun pacaran mauku yang serius sekalian. Eh, gak tahunya dia nanggapi serius. Terus terang sempat agak kaget juga, kalau dipandang dari segi umur Kenji san lebih muda setahun daripada aku, tapi gak pernah ragu buat memulai hubungan yang serius, sementara kalau ingat pacar pacarku dulu - yang usianya jauh lebih dewasa daripada aku, selalu aja pada terbirit birit kalau aku kasih signal hubungan yang lebih serius.

Pada akhirnya aku dan Kenji san menikah. Waktu awal masa pernikahan, bukannya tanpa masalah. Mulai dari pertama kali tinggal di negeri orang, soal komunikasi, kesepian – jauh dari teman dan keluarga. Dan semuanya itu baru aku sadari ketika telah tinggal di Jepang. Sempat gamang dan bertanya tanya, bener gak sih keputusanku buat nikah dengan orang asing.
Namun seperti biasa, aku jadi ndableg, menghadapi masa2 awal penyesuaian. Selalu saja jadi berpikir, sekarang emang belum terbiasa, tapi pastilah akan datang masa terbiasa, jadi lakoni aja deh.
Kini telah 7 tahun kita jalani hidup bersama. Sudah banyak pula kutahu sifat2 suami yang aku gak suka, tapi dengan begitu, jadi aku sadari bahwa pasti pula ada sifat2ku yang suami gak suka. Karena itu kalau pun ada waktunya aku jengkel, tidak bakalan aku jadikan alasan untuk bertengkar. Toh kita berdua juga manusia yang tidak sempurna. Seperti juga janji perkawinan yang kita ucapkan di Gereja dulu, bahwa kita akan saling menerima kekurangan masing masing, di saat sedih maupun saat bahagia.

Kenji san, kore kara mo yoroshiku onegaishimasu ne.

Saturday, December 23, 2006

slow life

Mulai minggu kedua bulan Desember ini aku ikut suami tinggal di Hitachi shi, Ibaraki (3 jam perjalanan bermobil dari rumah Urayasu). Sekarang aku dan Rui masih dalam tahap penyesuaian diri. Rasanya iba juga dengan Rui, sebulan kemarin aku ajak dia mudik ke Kediri, balik ke Jepang, seminggu tinggal di Urayasu, trus berangkat lagi ke Ibaraki. Tapi tekadku sudah bulat untuk ikut suami ke Ibaraki, demi Rui juga, biar dia lebih sering lagi ketemu bapaknya. Mumpung dia belum sekolah juga, gak ada masalah kalau mau pindah pindah. Rumah Urayasu bakalan kita jenguk sekali sekali.
Memang sih buat aku rasanya rada shock juga begitu tahu situasi di Hitachi shi. Dibandingin Urayasu, tempat tinggalku sekarang termasuk desa banget. Kalau malam jalanan depan rumah gelap gulita, karena gak ada lampu jalan. Pusat perbelanjaan sih ada, tapi lumayan jauh dari rumah. Aku sempat heran waktu pertama kali datang kapan hari, kok rasanya jarang lihat ibu ibu naik sepeda sih. Padahal kalau di Urayasu, sepeda itu kendaraan yang paling gampang dijumpai dan digunakan oleh ibu2 kalau mau belanja atau ngantar anak ke sekolah. Hari berikutnya baru aku sadari mengapa di sini jarang ada ibu2 bersepeda, karena kebanyakan jalannya menanjak naik turun!! Berlekok lekok pula, kayak di pegunungan. Kalaupun nekad sepedahan pasti juga bakalan copot dengkul-e, he he. Alat transportasi yang banyak di sini ya mobil pribadi.
Pokoknya jangan disamakan dengan Urayasu deh. Ada kereta, ada bis umum, toko serba ada kecil kecilan pun bertebaran di sana sini. Di sini stasiun kereta jauh, bus cuma ada satu, kalau mau ke toko terdekat pun harus bermobil.Kapan hari aku dan Rui coba jalan jalan di sekitaran wilayah rumah. Bener bener sepi.... ada rumah rumah dan kebun kebun kecil sih, tapi gak ada taman umum, manusia pun jarang jarang. Muter muter lumayan jauh, dan girang banget waktu nemu vending-machine, mesin yang jualan minuman ringan kalengan. Rui pun kayak nemu teman lama aja, langsung dia minta recehan, dengan sok pintarnya mencet2. Setelah "belanja" sekaleng minuman ringan, mau gak mau pulang lagi deh ke rumah. Selain karena dingin, juga karena pinggang sudah pegel nggendong Rui. Rui mungkin masih merasa asing ya, jadi selama jalan jalan itu dia minta gendong terus (aku gak bawa baby car). Bayangin nggendong anak segedhe Rui di jalanan naik turun......
Bagaimanapun sekarang masih tahap awal. Masih sering membanding bandingkan dengan rumah Urayasu. Namanya juga masih belum terbiasa. Tapi aku yakin bakalan bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan pedesaan. Pastilah nanti bakalan ada hal hal baru yang mengasyikan, juga bikin rencana pergi ke pemandian air panas, dll. Anggap saja lah tetirah, mengistirahatkan diri dari kehidupan kota. Enjoy Slow Life!!