Thursday, August 30, 2007

Ada Tamu

Hari ini ada tamu (surprise! Surprise!). Gak sangka bakal ada yang nyambangi aku di sini. Ibu Ani yang pernah ketemu di acara Natal gabungan Gereja Tokyo lagi berkunjung ke rumah mertuanya di Hakodate. Sekalian hari ini beliau mampir ke rumah. Sayang banget Rui lagi molor, jadi gak bisa pamer kenakalannya deh. Ibu Ani bawain oleh oleh (yang selalu disambut gembira oleh rakyat Indonesia seperti aku ini) yaitu santan kaleng, sari kelapa dan tapioka. Sik, asyik…

Photo dibawah, diambil di jalan depan apartemen. Aku, Ibu Ani dan mertua Ibu Ani. Terima kasih ya Bu Ani, sudah dibelain mampir ke rumah, walaupun sempat kesasar sampai ke lapangan bola SD sebelah. Hehe.

Ps. Ayo, ayo, siapa lagi yang mau berkunjung ke Hakodate, aku sambut dengan tangan terbuka lebar lebar. Mama Aya, gimana? Monggo lho jeng, kalo mau dolan ke sini…


Wednesday, August 29, 2007

Kubota Farm

Bapaknya Rui pernah punya pengalaman buruk dengan sapi. Ceritanya waktu dia masih kecil dulu, pernah ikut tour bareng teman sekolahnya ke peternakan sapi. Tour yang sungguh berkesan karena untuk pertama kalinya dia bisa melihat sapi dari jarak yang begitu dekat. Saking terpesona nya, dia sampai sempat berpandang pandangan mata dengan si sapi dalam jangka waktu yang lumayan lama. Sepulang tour sampai sebulan kemudian, dia bilang gak bisa makan daging sapi, karena setiap melihat daging sapi, dia teringat akan matanya sapi yang bundar besar itu. Sejak itu, bapaknya Rui gak akan pernah mau memandang mata sapi kalau ketemu sapi, karena dia gak pengen ter-hipnotis lagi.

Kapan hari kita ngeluyur ke Kobuta Farm, peternakan sapi dekat sini. Setelah jajan ice-cream yang rasa susunya lekoh sekali dan nyobain sedikit keju, kita gak langsung pulang, karena Rui ribut pengen lihat sapi. Ketika mendekati kandang sapi, suami langsung wanti wanti, supaya jangan sampai memandang mata sapi, biar gak kena hipnotis. Haha. Masih trauma rupanya dia.

Di Kobuta Farm, ada kandang untuk sapi dewasa dan anak sapi. Kandang sapinya gak dijaga pemiliknya, sehingga kita leluasa buat photo photoan dan ngelihat sapinya dari dekat (gak terlalu deket dhing, wong bau sapinya sungguh aduhai). Sedang di kandang anak sapi, ada anjing penjaga yang herannya begitu lihat aku dan Rui, anjing itu langsung mendengking dengking dan merebahkan diri memperlihatkan perutnya – pertanda kepasrahan minta dielus elus. Weleh, anjing penjaga kok ramah gitu ya. Gak takut sapinya dikutil orang ya.

Kita gak lama lama main di peternakan itu, bukan karna takut kena hipnotis, tapi hidungku yg sensitive ini sudah gak tahan lagi untuk lebih lama membaui para sapi (hooeeeek).

Monday, August 27, 2007

Kodomo no Kuni

Di dekat taman Hakodate ada tempat main anak anak yang bernama Kodomo No Kuni (negri anak anak). Di sana ada berbagai macam mainan yang bisa dinaiki, ada komedi putar dan sepur-sepur-an segala. Konon semua mainannya adalah mainan yang sama ketika tempat ini dibangun 30 tahun yang lalu. Yes, kalian gak salah baca. Tiga puluh tahun yang lalu!! Jadi bisa dibayangkan gimana penampakan tempat mainan ini. Teramat lampau.

Gak ada karakter modern, semuanya gaya lama. Warna-warna nya pun cenderung kusam, bonekanya banyak yang bocel bocel. Komedi putarnya berlantai kayu, sepur-nya kecil, mainan tembak2an nya mirip meriam (dan suaranya pun sekencang meriam!) sedang ayunan yang mirip kincir air berputar itu jadi mengingatkan aku akan tontonan macam gini yang kadang aku temui di Paiton dulu.

Tapi walaupun semuanya bermodel kuno, Rui gak peduli. Begitu masuk dia langsung lari sana lari sini, megang ini megang itu, nunjuk nunjuk dan ujungnya minta naik. Ketika mau beli tiket, tertegunlah kita. Ongkos sekali naik 250 yen per orang. Wack, mahalnya!! Padahal prinsip kita kalo jalan jalan khan nyari yang gratis-an (wong parkir mobil aja selalu dibelain nyari tempat yang gratis…). Tapi biarlah demi anak… cuma suami sempat ngedumel, ni do to konai kamone, alamat tempat main ini gak bakalan kita kunjungi lagi di lain waktu.

Pertama Rui pengen nyoba naik sepur, sebelnya dia gak mau naik sendiri, ngajak bapaknya, otomatis harus beli 2 tiket. Sudah gitu ngajak naik ayunan kincir, kalo yg ini sangat berbahaya kalo Rui naik sendiri, jadi aku yang didorong dorong suami buat nemenin Rui (padahal aku ketakutan setengah mati. Kalo kincir yang gedhe sih pernah aja naik. Tapi yang model mini gini, yang gak ada tutup kacanya, yang pintunya hanya sebatas lutut kita… mengerikan. Apalagi waktu sampai di puncak. Rui sempat ketakutan juga, tapi aku berusaha menjadi gagah. Duh). Setelah naik kincir, Rui minta naik motor motor-an (untunglah Rui mau naik sendiri, jadi cukup 1 tiket aja – lagian motornya emang kecil, gak bakalan bisa ditunggangi orang dewasa). Habis gitu main tembak tembak-an, trus pancingan… udah deh gak berani ngitung2 lagi.



Heran ya, tempat mainan yang kuno begini, dan pasang harga mahal, kok masih laku aja di jaman sekarang. Mungkin juga karena pegawai yang jaga di sana super-duper ramah banget. Ketika Rui masih bingung menentukan pilihan, pasti sudah ada aja Mbak atau Mas jaga yang ndeketin, “norimasuka?” nawari kita buat naik, dengan senyum simpul lebar, yang bikin kita gak tega buat menolak. Alhasil perlu perjuangan berat untuk membujuk Rui berlalu dari tempat ini. Lha kalau dibiarin bisa bisa kita bokek sampai ke ujung kantong.

Father and Son


Suatu petang di Pantai Hakodate



Thursday, August 23, 2007

Masa Masa Sulit


Aku pernah baca di internet, bahwa anak seumuran Rui adalah anak dalam masa masa yang sulit, sampai sampai ada julukan terrible-two (walaupun aku yakin, bahwa masa sulit anak gak bakalan terbatas pada umur dua tahun aja, pastilah bakal ada terrible three, four, five… hehe).

Ketika Rui sekarang sudah lumayan banyak kosa katanya, ada saat saat ketika aku harus menghela nafas berulang kali meredakan emosi yang kadang begitu meletup letup. Ada 3 kata favorit Rui yang sering bikin aku kesel yaitu : tabenai, ikanai, dan hoshikunai (gak mau makan, gak mau pergi dan gak mau). Kalaupun dipaksa dia bakalan menjerit dengan sombongnya “emoooooh!!!” (lho kok jadi keluar bhs Jawanya?!).

Kalau dipikir pikir sebelum ini sering sekali Rui bikin aku kesel, misalnya aja dia pernah bikin dapur banjir karena mainan kran air di tempat cuci piring. Pernah bikin toilet gak bisa dipakai seharian karena dia masukkin bergelondong gelondong toilet-paper ke lubang toilet – dan aku sambil menangis darah tetap kukuh untuk membereskan masalah toilet itu sendiri, walaupun suami mau nelpon perusahaan jasa pengurusan toilet mampet (mbayangin iklan Qracian di tv, toire toraburu ha-sen-en, duh gak rela kalo harus keluar uang 8 ribu yen hanya gara gara ulah anak. Akhirnya semalaman aku berkutat di toilet mengeluarkan serpihan2 kertas toilet yang sudah berubah jadi bubur… huh). Pernah pula Rui mbalikkin tempat beras, sehingga aku harus memunguti buliran berasnya satu persatu sepenjuru dapur karena tak ingin dikutuk dewi padi. Kekesalan2 jaman dulu rasanya jadi terasa enteng dibanding sekarang. Paling gak aku gak perlu muter otak berlama lama untuk mengatasinya.

Sekarang apa jadinya kalo Rui maksa gak mau makan, ogah mandi, ogah segalanya pokoknya emoh, emoh dan emoh. Awalnya aku bakal membujuk lalu jadi naik darah, mengancam, kemudian melengking lengking (untung gak sampai mendengking dengking) tapi bahkan dengan begitu Rui masih tetap sekokoh batu karang. Sampai aku blingsatan ngubek-ngubek internet, cari tahu gimana sih caranya ibu-ibu yang lain menghadapi terrible-two nya.

Dari sekian banyak pendapat, akhirnya aku mendapatkan solusinya. Pertama berusaha tenang kalo Rui mulai dengan aksi emohnya (teorinya gampang, tapi penerapannya sungguh tak mudah. Apalagi buat aku yang suka gak sabaran dan grusa grusu). Kedua, berusaha tidak memberi perintah kepada Rui, melainkan menawarkan pilihan. Seandainya tiba waktu mandi, aku gak akan ngasih perintah “ayo mandi” melainkan memberi pilihan “di kamar mandi, Rui mau main ikan ikanan atau main bebek?”. Kalau jam makan “Rui mau makan nasi, atau makan udon (mi Jepang)?”. Sebelum tidur, biar mau sikat gigi pun, aku kasih pilihan, mau sikat gigi Anpanman atau sikat gigi Simajiro? Syukurlah metode ini sekarang sangat mempan buat Rui. Pokoknya jangan sampai kasih kesempatan dia untuk bilang tidak, karena nanti jadi bertele tele situasinya.

Sayang sekali metode ini gak berlaku kalo aku lagi driving berdua aja ma Rui. Kalau di tengah jalan dia tahu2 berulah, narik hand-rem misalnya, aku sudah gak bisa mikir pilihan lagi, pastilah aku langsung melengking “Ruuiii! Duduk manis!!” dan Rui pun bakalan balas melengking “emoooh!!”. Duh, bibir Rui rasanya pengen tak-kuncrit pakai karet gelang….

Motomachi

Hari Minggu kemarin kita pergi ke gereja katolik Motomachi. Niatnya mau ikut misa, tapi ternyata sudah telat, karena kelamaan muter muter nyari tempat parkir. Pada akhirnya nemu juga tempat parkir gratis-an, bareng sama bus bus pariwisata (hehe). Dari tempat parkir masih harus jalan 10 menit-an sampai ke gereja. Sebenarnya bisa lebih cepet lagi, tapi karena ada Rui dan jalannya lumayan menanjak, jadi makan waktu deh. Begitu sampai gereja, pintu nya sudah ditutup dan suasananya hening, khusuk, ya gak berani masuk ke dalam deh. Alhasil kita photo2an aja di luar. Pas ada rombongan turis juga yang lihat2 gedung luar gereja. Semua pada diingetin guide-nya supaya gak ribut2 ngambil photonya karena lagi ada misa.
Gereja Katolik Motomachi sebenarnya sudah ada sejak tahun 1861, namun bangunan yang pertama terbakar dan gereja ini dibangun lagi tahun 1924. Arsitektur bangunannya bergaya gothic. Keren abis. Sayang aku belum bisa masuk untuk lihat altarnya yang konon hadiah khusus dari Paus.

Di seberang gereja katolik ini ada gereja tua lagi yaitu gereja ortodok Rusia. Kalo gereja ini aku sempat ngintip ke dalam (karena pintu masuknya emang lagi terbuka). Wuah, altarnya pika-pika mengkilat disepuh warna emas. Romonya pakai jubah item yang ada kerudungnya. Suasananya persis gereja ortodok di Ochanomizu deket sekolahku YMCA dulu. Di sini pun kita gak bisa berlama lama, karena Rui yang ikutan ngintip deket pintu, begitu lihat banyak gambar orang suci, teriak keras sekali “kowai… (=takut)”. Langsung aja kita buru buru minggat.

Akhirnya kita keluyuran di seputaran Motomachi. Banyak galeri dan toko2 kecil, tapi kita gak berani masuk. Habis tokonya sempit2. Umumnya rumah biasa yang disulap jadi tempat jualan. Lha ngajak Rui kalo dia berulah khan repot. Sempat pengen lunch di restoran yang jualan sosis home-made, tapi urung begitu lihat sempitnya ruangan.

Motomachi tempatnya asyik buat jalan jalan, hanya sayangnya jalannya lumayan naik turun. Kalau pas sampai di turunan sih enak, tapi kalo sampai di tanjakan lumayan menggos menggos. Walaupun kemarin kita gak bisa blusukan masuk ke toko toko, tapi terhibur juga dengan pemandangan indah. Ada satu jalan yang latar belakangnya laut lepas, bagus sekali. Sampai nyeletuk ke suami, suatu hari nanti kalo kita tua dan anak anak sudah mandiri semua (bayangannya khan punya anak lebih dari 1, hihi), aku gak bakalan keberatan kok kalo tinggal di kawasan Motomachi. Maunya tuuuu….uh.

Wednesday, August 22, 2007

Games

Sudah sejak sebulan yang lalu kita punya permainan baru di rumah, Nintendo DS Nou Training – games untuk melatih otak. Hidup di jaman teknologi maju sering membuat otak kita jadi “tidur”. Terbiasa menggantungkan diri dengan tuts komputer, frekwensi nonton tv yang berlebihan, pemakaian kalkulator, dsb. Otak jadi terlalu dimanjakan, gak pernah diasah dan menjadi tua sebelum waktunya.

Nintendo Nou-training ini berisi permainan yang simple. Menjumlahkan, menyebut warna, menghapalkan kata singkat, menghitung, dll, yang sekilas lihat aja sepertinya gampang. Tapi tahu gak, pertama kali aku main games ini, hasilnya otakku divonis sudah berumur 80 tahun!! Shock!!

Suami juga sempat shock waktu umur otaknya divonis sudah 48 tahun. Haha… tapi aku gigit bibir juga, masih mending umur 48 dibanding otakku yang 80 tahun. Nenek nenek, wuuuaaah!

Setiap hari kalau kita buka games ini bakalan ada 3 permainan yang keluar secara acak (tiap hari juga gak sama) untuk mengetes seberapa tua umur otak kita. Dan aku paling benci kalau pas kena games kali kalian. Perkalian yang bagi banyak orang dianggap guampang banget (apalagi bagi suami), lha wong cuma 8x6… 4x7… 9x3… apa susahnya sih. Tapi bagiku perkalian adalah monster, nightmare.

Kalo ketemu perkalian, rasanya masih tergiang ngiang suaranya Pak Suwantoro (guruku waktu kelas 2 SD dulu) mendiktekan test perkalian. Masih terbayang malunya aku kalo disuruh nyunggi tas sepulang sekolah karena nilai test perkalianku selalu dibawah angka 5. Bodo banget rasanya. Pokoknya perkalian adalah momok bagiku.

Eee… sekarang kok nemu test perkalian lagi di game Nintendo. Suka malu juga sama suami, karena hasil test otaknya tambah hari tambah muda aja. Lha gimana lagi ya, emang aku ini lemah di itung itungan.

Satu hal yang bikin aku rada sombong, kalo pas Nintendonya keluar game menghapalkan kata2 (kita dikasih waktu 2 menit untuk menghapalkan serangkaian kata2 pendek, dan dikasih waktu 3 menit untuk menuliskan kembali kata2 yang telah diingat). Wah, suami paling benci kalau ketemu game ini, sebelum waktunya habis pasti dia sudah bete duluan. Tapi bagiku game yang ini menyenangkan sekali karna nilaiku tinggi di sini. Hohoho….

Dan kemarin hatiku sungguh gembira karena hasil test umur otakku jadi 20 tahun! Banzai! Banzai! Seneng banget bisa melampaui umur otak suami. Dibanding pertama kali main game ini memang ada kemajuan di kecepatanku menyelesaikan soal perkalian. Saben hari latihan, jek. Kayak jaman SD dulu aja, hehe. Walaupun sekarang umur otakku sudah jadi 20 tahun, tapi aku gak mau berhenti latihan, aku pengen kayak suami kalo lagi ngerjakan soal perkalian, kayak robot gitu cepetnya, sret sret sret. Bisa gak ya….

Tuesday, August 14, 2007

Jalan Jalan

Minggu minggu yang lalu Hokkaido hujan dan mendung melulu. Jadi repot kalau mau ngajak Rui main keluar. Pernah kejadian, pas lagi jalan jalan, mampir di Mr. Donat, eee…ee keluar dari toko, hujan turun deres sekali. Mana mobil parkirnya jauh di dept. store seberang jalan lagi. Mau nunggu hujan kok nanggung sudah sore, nanti papanya Rui gak bisa masuk rumah karena gak bawa kunci. Yo wis, aku kudungi Rui pakai tas kresek nya Mr. Donat (sedang donatnya aku masukkin tas cangklongku), trus lari lari ke tempat parkir mobil. Rui nya sih malah kegirangan bisa berhujan hujan, apalagi waktu “topi” kreseknya diterbangkan angin, wuah ngakak ngakak deh dia.

Syukurlah minggu ini cuacanya cerah, bahkan sedikit gerah. Rui pun bisa lari larian di luar tanpa takut kehujanan. Minggu kemarin pun waktu suami libur, kita jalan ke danau, lihat kebun bunga dan naik perahu keliling danau. Sempat ketemu rombongan turis dari Cina kayaknya, yang ramah ramah banget. Dadah, dadah waktu ngelihat Rui, sambil menyapa “ni hau, ni hau..”. Emang beda ya dengan orang Jepang yang cenderung dingin kalau lihat anak kecil.

Oh ya, di seputaran danau banyak kios penyewaan sepeda untuk umum. Dan ada sepeda sepeda yang bisa disambung berurutan untuk keperluan rombongan turis. Jadi bayangin ada satu rombongan turis pada mengayuh sepeda yang puuuaaa….aaanjang banget kayak ular naga. Rui aja sampai lumpat lumpat tepuk tangan kalau ketemu rombongan sepeda panjang ini. Ujung ujungnya dia nangis pengen ikut naik. Hihi.

Pulangnya kita mampir ke Kombu-Kan. Bangunan ini sebenarnya pabrik rumput laut, tapi sudah dirancang sedemikian rupa untuk persinggahan turis. Ada musium sederhana pula tentang riwayat Kombu mulai dari jaman samurai Jepang dulu sampai sekarang. Trus ada ruangan luas tempat aneka produk Kombu bisa dibeli, dari rumput laut biasa, sampai produk olahan kombu lain seperti coklat dan teh kombu. Enaknya di ruangan ini kita bisa incip incip. Wah, Rui kalau gak disetop bisa nongkrongin kios coklat kombu terus kali. Oh ya, di sini pula kita ketemu lagi sama rombongan turis yang sebelumnya ketemu di danau. Sekali lagi Rui disapa “ni hau, ni hau”, kali ini Rui pun dengan riangnya mbales dadah dadah.

Pulangnya di mobil, Rui langsung pules. Capek kali ya, nemu banyak pengalaman baru, naik perahu, lihat sepeda sambung, ketemu banyak orang yang ramah. Otsukaresama deshita
.

Friday, August 10, 2007

Teman Lama

Aku benar benar bersyukur kepada Tuhan, bahwa aku hidup di jaman sekarang. Jaman di mana teknologi lagi berkembang pesat. Sehingga walaupun aku terdampar di negri orang pun, aku masih tetap bisa gampang berhubungan dengan orang orang di tanah air. Dan hari ini pun aku merasa bahagia sekali, karna berkat kemajuan teknologi pula, aku bisa ketemu teman lama.

Kapan hari aku sempat penasaran dengan blog nya Susan. Dan ternyata emang benar Susan itu temen lamaku di SD!! Hiyaaa, aku sampai senyam senyum sendiri ngelihat pesen yang ia tinggalkan di blog ku. Wajahku berubah katanya, dan gak kriting lagi. Haha… Lha emang sudah jadi ibu ibu kok San, gimana wajahku gak berubah, hihi. Mana aku berkacamata dan rambutku gak panjang lagi, jadi gak kethok brintik-e.

Pasti Susan sempat bingung ya, apalagi karena aku gak mencantumkan nama lengkap di blog ku. Aku hanya pakai nama kenmari, singkatan dari nama suami (Kenji) dan nama pertamaku (Maria).

Benar benar ajaib rasanya, sudah puluhan tahun gak ketemu. Kapan hari aku chatting sama adikku, dia bilang juga masih inget sama Susan karena Susi (adiknya Susan) adalah temen sekelasnya sampai SMP.
Susan bilang juga masih ingat aku, ingat juga waktu kita berdua pernah jadi malaikat di drama Natal sekolah. Haha. Menyenangkan sekali mengingat masa lalu. Coba kalau kita ketemu beneran pasti sudah ngobrol ngalor ngidul ya, San.

Susan, seneng sekali bisa menemukanmu. Semoga kalau aku mudik lagi ke tanah air, kita bisa ketemu, dan anak anak kita bisa kenalan (Rui, anak lanangku lahir bulan Maret 2005. Kayaknya sepantaran sama Bryan ya, San). Adikku sekarang kerja di Sby. Bapak masih di Santa Maria dan ibu sehat sehat aja di rumah. Keep in touch, ya Susan.

Tuesday, August 07, 2007

Teman Lama kah?

Hari ini Hokkaido hujan – dulu mertua pernah bilang, di Hokkaido gak ada tsuyu (musim hujan), siapa bilang… buktinya belakangan ini hujan melulu. Daripada sebel ngelihat jemuran setengah kering yang bergelantungan di living room, sementara Rui lagi nyaman tidurnya, aku sempatin bersantai di depan komputer, blog-walking. Dan gak tahunya aku sampai di blognya seseorang yang bernama Susan. Mataku jadi terbelalak.

Kok rasanya nama dan wajahnya familiar sekali. Jadi penasaran. Penasaran banget. Rasanya aku pernah punya teman bernama Susan waktu di SDK Santa Maria Kediri dulu. Dua, tiga kali rasanya aku juga pernah main ke rumah dia di kawasan Pasar Pahing. Rasanya dia juga pernah main ke rumah ku yang waktu itu masih ada di Banjaran (rasanya juga di rumah Kediri, masih tersimpan photo Susan dan adiknya waktu main ke rumah. Seingatku dulu kita mainan boneka ku yang rambutnya brodol karna suka aku sisir-i, hehe).

Apakah Susan yang aku kunjungin blognya hari ini adalah Susan teman dari masa kecilku? Kalau bener, surprise sekali ya. Semoga aja Susan di blog itu berkenan untuk mampir juga di blog ku ini. Dan seandainya dia benar teman lama ku, kutitipkan pesan ini : Susan.., aku Ika anak-e Pak Frans guru Santa Maria. Masih ingatkah dikau?