Friday, January 16, 2009

Prestasi (?)

Terima kasih ya buat semua simpatisan (bahasane rek) yang sudah ninggalin komen di postingan Bumil Rewel kapan hari. Seperti yang dibilang Niken, dokter pun bilang kalau sudah masuk usia 4 bulan biasanya ngidamnya sudah gak terlalu heboh lagi. Semoga aja masa masa menjengkelkan ini bisa cepat berlalu. Oh ya, postingan kemarin itu aku tulis juga bukan untuk nakut nakuti orang buat hamil. Kayaknya ini pesen khusus buat Imoet deh. Setiap kehamilan pasti punya keunikan sendiri sendiri, kalaupun sekarang lagi gak karu karuan, tapi pasti di kemudian hari nanti kita bisa mengenangnya sambil cekikikan. Kalau gak hamil, mana bisa kita punya pengalaman berharga begini. Jadi sekali lagi buat Imoet, jangan takut buat hamil lagi, dan kayaknya kamu lebih baik hamil sekarang aja, mumpung di Indonesia, sehingga kalo lagi pengen makan Indonesia lebih gampang carinya, dan gak bakal mengalami nightmare macam aku gini. Hihihi.

Kalau dibandingin dengan jaman hamilnya Rui dulu, aku rasa tingkat kerewelan nya sama. Hanya saja kalau dulu khan belum ada siapa siapa, kalo lagi gak enak badan atau mual ya dibawa tidur aja di rumah. Tapi kalau sekarang khan gak bisa santai, wong ada Rui, jadi walaupun muka udah ke-ijo ijo-an nahan mual, teteup aja harus ngurusi Rui, ngantar playgroup, ngajak main ke taman, dll. Kesannya sekarang jadi terasa lebih rewel.

Jamannya Rui dulu, penciuman ku juga sensitive banget, sama bau kulkas aja gak betah. Pokoknya kalo bapak-e Rui lagi buka buka kulkas, walaupun aku berada jauh di kamar belakang pun aku bisa tahu. Hanya saja jamannya Rui dulu aku cenderung pasrah. Kalau gak bisa makan ya udah, kalau gak bisa masak ya udah, pokoknya banyak tidur aja. Tapi hamil yang sekarang ini jiwa bonek nya lebih kental. Udah tahu lagi susah makan, udah tahu kalau masak pasti mual nyium bumbu bumbu, tapi ya teteup nekad aja masak. Hal ini jadi aku anggap sebagai prestasi.

Memang sih sebagian besar masakan ku gak layak dimakan orang lain, saking kebanyakan cabe. Tapi paling gak aku bisa melipur diri. Kalau lagi mual trus diem aja, rasanya kok tambah tersiksa. Jadi aku paksain masuk dapur aja. Hasilnya lumayan lah, kalau masak sendiri, paling gak aku bisa makan juga.

Di bawah ini aku pajang photo photo “prestasi” ku.
Penthol colek super pedas ala Djuwadi.
Bubur, telor asin (bikinan sendiri) dan perkedel tahu.
Lontong terik tahu dengan topping bubuk kedelai dan krupuk udang. Sebelahnya asinan taoge, timun, nanas dengan bumbu kacang (lagi lagi) super pedas.

Sekarang ini aku lagi pengen bikin gado gado (gara gara dapat mimpi buruk kapan hari), hanya saja aku pengennya kacangnya aku uleg sendiri pakai cobek batu, gak mau pakai food processor. Mampu gak ya. Tapi seandainya berhasil nanti, bakal jadi salah satu prestasiku lagi khan. Hehehe.

Thursday, January 15, 2009

Bumil Rewel

Kapan hari aku sempat nyinggung, bahwa sejak mblendhing gini daya penciumanku jadi sensitive tiada tara. Sampai sekarang sudah masuk usia 3 bulan-an, kondisi ini masih terus berlangsung. Keadaan ini sangat merepotkan terlebih kalau aku berada di tempat umum khususnya di dalam angkutan bus umum atau kereta api. Aku serasa dikurung dalam kotak sempit tertutup dan hidungku otomatis jadi mengendusi aneka bebauan dari penumpang yang lain.

Awalnya aku selalu menghindari naik kendaraan umum, dan nekad bersepeda. Tapi sayangnya nafasku jadi pendek kalau sudah nggenjot pedal sepeda, dan akibatnya aku jadi mual dan harus terbungkuk bungkuk di pinggir jalan (mangkanya setiap saat aku selalu bawa kantongan plastik untuk menghadapi saat “emergency” gini). Memalukan gak sih, diliriki sama orang orang yang lewat. Pasti dalam pikiran mereka, nih orang naik sepeda aja kok bisa mabok siiiih.

Bapak-e Rui pernah menganjurkan aku buat pakai masker penutup hidung dan mulut kalau berada di tempat umum. Tapi ini lebih merepotkan, karena aku jadi susah bernafas dan keliyengan sendiri membaui aroma mulutku. Sorry… topiknya jadi rada nggilani. Padahal Bapak-e Rui berkali kali bilang bahwa mulutku tidak bermasalah. Tapi (lagi lagi) daya penciumanku khan lagi peka tiada tara.

Karena aku merasa diriku itu “bau”, ritual sikat gigi jadi butuh waktu lama. Pertama kumur dulu pakai Listerine, habis gitu sikatan, trus bersihin sela gigi pakai dental floss, trus kumur lagi pakai Listerine, terakhir ditutup dengan kumur pakai obat kumur antiseptik buat membersihkan tenggorokkan. Dan itu pun dalam sehari bisa aku lakukan berkali kali. Aku jadi kayak orang “sakit” aja.

Kalau daya penciumanku jadi sepeka anjing pelacak, kebalikannya indera pengecapku jadi letoi. Semua makanan jadi serasa hambar, semua terasa kurang bumbu di lidahku. Jadinya aku selalu cenderung menambah peneguh rasa di piringku, entah itu perasaan jeruk nipis atau tambahan sambal dengan cabe minimum 5 biji (padahal biasanya cabe sebiji aja sudah bisa bikin aku gibras gibras).

Aku jadi bumil yang rewel dan banyak maunya. Selalu terbayang bayang makanan Indonesia yang muskil dan mustahil ditemukan di restoran Indonesia di sini. Seperti aku pengen makan cilok atau penthol, tapi rasanya harus sama dengan yang dijual Djuwadi, langganan di rumah Kediri. Penthol nya harus berasa “kampungan”, dagingnya dikit tepung kanjinya yang buanyak, dan harus pedes buanget. Alhasil ketika aku coba bikin sendiri, dan bapak-e Rui nyoba ngincipi, mulutnya langsung terasa terbakar saking pedesnya.

Selain itu banyak sekali makanan yang aku pingin, tapi mustahil buat bikin sendiri. Gak ketulungan deh aku pengen makan sego tumpang yang harus sama dengan nasi tumpang Setonobethek, pengen makan plenggong singkong seperti yang dibikin bulikku, sate pak Siboen, rujak cingur… Gak heran kalau hampir setiap malam aku selalu bermimpi tentang makanan dengan akhiran yang ajaib. Seperti kemarin malam, aku mimpi berada di warung kecil Jalan Doho, yang jaman duluuuuu sekali sering aku kunjungi bersama ibuk. Di depanku terhidang gado gado yang sangat menggiurkan. Tapi begitu aku sendok, gado gadonya berubah jadi setumpuk kain perca warna warni. Tersentak aku terbangun, kelop kelop memandang langit langit kamar sambil menelan air liur. Whoaaaaaaa…. Rasane pengen nangis gerung gerung.
Lilypie Kids Birthday tickers
Lilypie Third Birthday tickers
DaisypathAnniversary Years Ticker